Drama Jomlo di Kala Lebaran

Drama Jomlo di Kala Lebaran
Lebaran telah lewat. Tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Nggak ada tradisi mudik dan segala drama yang ada seperti berebut tiket kereta, macet dan lain sebagainya. Bahkan, kita harus berpuas hati dengan mengubah tradisi silaturahim secara virtual. Acara maaf-maafan lewat video call atau pesan.

Aku tahu, ada sedih yang singgah dalam dada. Hari kemenangan yang biasa menjadi ajang kumpul keluarga, tahun ini ku lalui sendirian di tanah rantau. Meski harus ku akui, ada seberkas keuntungan yang bisa ku nikmati. Paling nggak, aku nggak harus gegana dengan pertanyaan-pertanyaan sakral yang seolah wajib diajukan padaku setiap tahunnya.

Apa itu gegana?

Perasaan gelisah, galau dan merana. Yah, kalian mengertikan itu hanya sebuah singkatan. Apalagi, ketika usiaku mulai memasuki tahun ke-30 dan masih jomlo. Aku yakin kalian sudah bisa menebak pertanyaan sakral macam apa yang kumaksud.

Andai bisa memilih, saudara-saudaraku nggak perlu repot mengajukan segala pertanyaan itu. Jika aku bisa memaksa, bibi-bibiku nggak harus lelah memasang-masangkan aku dengan si ini atau si ono.

Tapi masalahnya, apakah aku bisa memaksakan kehendakku pada Tuhan? Sebut saja, Ya Allah, aku mau suami masa depan yang sholeh, tampan dan mapan saat ini juga. Lalu voila, dalam sekejap Ayang Beb, Muhammad Tarek tiba-tiba muncul di hadapanku. Dia siap dengan ijab dan mahar yang akan dia berikan.

Kan nggak bisa begitu. Sayangnya, drama tetaplah drama. Nggak perduli apapun alasanmu, jika kamu masih jomlo di kala lebaran, maka drama jomlo tetap saja tercipta.

Drama Pertama : Kapan Menikah?


Drama Kapan Menikah

Jika pada kondisi lebaran yang normal, maksudku nggak ada pandemi yang melanda dunia, ada saja kerabat yang nyeletuk, “Lho, Yuni kapan pulang dari Semarang? Sendirian aja? Mana Pasangannya? Kapan Menikah?”

Woho. Itu pertanyaan beraninya rombongan. Mereka mengeroyokku yang hanya seorang diri. Coba kalau berani, satu lawan satu! Hapa sih? Hehehe...

Para saudara yang sangat kucinta dan kusayang, bukankah kalian sudah tahu bahwa jodoh itu sudah diatur sama Allah SWT. Jadi, percuma mau drama kayak apa juga, kalau Allah bilang belum. Aku bisa apa.

Tapi kan kamu kudu usaha juga. Buka hati. Jangan suka menutup diri. Yuk, bibi kenalin sama Muhammad Tarek. Doi sholeh lho. Udah gitu ganteng dan mapan lagi. Siapa tahu jodoh.

Bibiku yang mana yang kenal sama artis? Coba dong ngaku. Kan aku bisa sekalian seleksi mana yang baik untukku dan aku baik untuknya.

Oke. Cukup halunya.

Drama Kedua : Nunggu yang Seperti Apa sih?


Saat asyik makan lontong dan opor ayam, tiba-tiba terdengar, “Kemarin Afghan katanya ngelamar kamu. Kok kamu nggak mau sih, Yun? Kamu nunggu yang seperti apa lagi?”

What! Kalau Afghan Syahreza mah, aku iyes pasti, te. Nggak perlu dipaksa juga aku pasti mau diajak ke KUA. Nah, lho...

Kalian tahu ‘kan, setiap orang memang seharusnya punya kriteria. Aku juga demikian. Apalagi dalam memilih pasangan. Dimana bagiku, menikah itu kalau bisa sekali seumur hidup. Nggak bisa yang cuma sehidup-semati aja. Tapi lebih jauh lagi, sehidup-sesurga nantinya. Aamiin.

Terus si Vidi Aldiano kurang apa? Udahlah turunin deh kriterianya.

Alamak. Kenapa aku yang harus menurunkan kriteria? Bukannya yang tepat, aku harus terus membersihkan dan memantaskan diri ya. Jadi, pas Allah sudah tentukan waktunya, aku tinggal memilih siapa yang terbaik untukku dan aku juga terbaik untuk siapa.

Drama Ketiga : Kamu udah Pantas Jadi Ibu


Aku dan balita bagai dua hal yang nggak bisa disatukan. Entah mengapa beberapa keponakan nggak mau aku dekati. Mereka pasti menjauh atau lebih parah lagi tantrum ketika di dekatku.

Busyet, kadang aku berpikir, kok mereka nggak mau digendong gadis manis dan cantik sepertiku.

Hal yang paling menyesakkan saat kejadian itu, ketika ada yang nyeletuk, “Makanya nikah. Kan kamu jadi punya mainan yang lucu sendiri. Kamu tu udah pantes jadi ibu, Yun.”

Lha dikata mainan si bocah. Rasanya aku ingin bilang, mereka bukan mainan atu, Tante.

Lagian, kayak begitu mah nggak bisa dipaksa. Namanya anak kan titipan. Kalau kita udah dipercaya sama Allah untuk dititipin tanggung jawab mah nggak perlu didesak-desak sama keluarga kali, tan. Tapi, drama tetaplah drama. Saudara-saudaraku mantep banget dah kalau disuruh ngedrama buat para jomlo.

Anggap saja, tahun ini aku dikasih dispensasi terkait drama jomlo di kala lebaran ya. Siapa tahu ‘kan Allah sudah siapkan jodoh yang sholeh, mapan dan tampan setelah ini. Kayak Muhammad Tarek gitu. Atau biar nggak repot Muhammad Tarek ajalah. Hehehe...

Jangan khawatir para jomlo fii Sabilillah. Kita tetap ikhtiar membersihkan dan memantaskan diri sampai waktunya tiba. Semoga para jomlo sepertiku disegerakan bertemu dengan jodohnya. Aamiin Ya Rabb.

Salam Hangat Termanis

Post a Comment

7 Comments

  1. Ihhh, gemes ya kalau ada orang yang sok perhatian tapi caranya nyebelin gitu. Iya, buatku pertanyaan seputar pernikahan tuh bentuk perhatian. Tapi acapkali orang jadi tiba-tiba menjadi hakim yang bisa seenaknya mengklaim bahwa kita itu standarnya terlalu tinggi, terlalu pilih-pilih, nggak mikirin orangtua, dsb.

    Biarin ajah, jodoh memang diharapkan bisa sehidup sesurga. Jangan lah terburu menikah hanya karena usia, dikejar pertanyaan saudara, atau orangtua. Semoga dipertemukan Allah dengan jodoh terbaik dan waktu terbaik menurut-Nya ya, Mbak.

    ReplyDelete
  2. Akupun kesel mba sama rangorang yg sok ker pedahal cuman kepo ama idup orang lain hehehe.. udah kenyang pertanyaan model gitu yak. Giliran ada prestasi kita, diem bae mereka. Huff.... Untung ya taun ini gak ada kumpul-kumpul kayak dulu.. minimal ngurangin sebel. Hahahaha

    ReplyDelete
  3. Aamiin...aamiin ...aamiin Ya Rabbal'allaamiin. Semoga bisa dapat pasangan yang tepat di waktu yang tepat juga ya, Mbak.
    Jodoh itu rahasia Allah, gak bisa dipaksain. Yang penting kita sudah ikhtiar ya, kan...

    ReplyDelete
  4. Semua akan indah pada waktunya. Semoga segera dipertemukan dengan si dia yang paling tepat untukmu ya Mbak Yuni. Aamiin

    ReplyDelete
  5. Semuanya akan indah pada waktunya Yuni sayang.. Tetap berdo'a, selalu berikhtiar. Insya Allah akan bertemu jodoh yang baik. Kalau omongan orang memang sampai kiamat juga gak bakalan abis, jadi senyumin ajah..

    Big hug !..

    ReplyDelete
  6. Aduh mbak, hempas manjah orang2 yang suka komentar gitu haha.. Mereka gak tau apa yang semua udah digariskan yang diatas..yang penting terus bersungguh-sungguh memantaskan diri, insyaAllah semua ada jodohnya, tinggal kapan waktu yang tepat ;)) Semangat mba ;)

    ReplyDelete
  7. Amiiin. Btw, who is Muhammad Tarek? Aku jadi penasaran. Wkwkwk...Kudoakan deh, mas Muh shaleh, mapan bin ganteng, dateng dng mahar lengkap serombongan. Jangan khawatir...walaupun udh engga jomlo, pertanyaan "kapan" susulan siap menyerang lho...Kapan punya anak, kapan nambah anak, kapan...kapan...

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya, jika anda memiliki saran, kritik maupun pertanyaan silahkan tinggalkan komentar anda.