Sumber : inspirasi.co

Konon katanya umaiza adalah nama seorang gadis cilik yang teh dinii fitriyah kenal waktu menjadi relawan di Lombok. Gadis cilik yang memberi beliau inspirasi untuk mencipta karya salah satu busana muslimah yang menjadi koleksinya.

Kala membaca cerita Teh Dinii tentang gadis ini, hatiku trenyuh. Penuh haru. Dan dada terasa sesak hingga nyaris tak bisa bernapas. Tak kuasa menahan bulir air mata yang terus menggenang. Bukan semata karena aku memang gadis yang terlalu terbawa perasaan (baper). Sama sekali bukan. Cerita gadis ini memang mengharu biru. Barangkali kalian juga akan merasakan hal yang sama denganku saat nanti ku ceritakan kembali apa yang telah Teh Dinii tuliskan.

Mari kita buktikan!

Sejenak, kita kembali pada kejadian alam yang menimpa Lombok beberapa tahun silam. Yah, gempa bumi yang meluluhlantakkan bumi Lombok kala itu. Teh Dinii sebagai owner Mouza Indonesia bersama team tergerak untuk menjadi relawan langsung ke sana. Mereka menyalurkan bantuan dan sedikit menghibur para korban yang kehilangan banyak hal. Lalu, saat itulah Teh Dinii bertemu dengannya.

“Kamu ingin hadiah apa, Sayang?” tanya Teh Dini.

Sambil menunduk malu-malu, gadis cilik itu menjawab, “Bolehkah saya minta Al Qur’an saja, Bu?”

Di saat semua anak seusianya bebas meminta banyak hal yang mungkin mereka sukai, mainan, pakaian atau apa pun. Namun dia berbeda. Dia malah meminta hal lain yang lebih sederhana. Tidak heran jika kemudian Teh Dinii mengabadikan nama gadis itu untuk salah satu koleksi busana muslimnya.

***

Namanya Umaiza. Gadis cilik yang masih berusia 10 tahun kala itu. Dalam pemikiranku kala membaca kisah Teh Dini, dia adalah gadis yang manis. Sholehah dengan hijab dan busana muslimah senantiasa membalut tubuh mungilnya. Benar-benar gadis sederhana jika mengingat apa yang dia pinta sebagai hadiah.

Beberapa saat sebelum kejadian, dia begitu bersemangat menyelesaikan hafalan juz terakhir. Demi menuntaskan harapan Sang Ibu di hari ulang tahun beliau. Pun jilbab yang sudah dia persiapkan dari hasil tabungannya. Jilbab yang memang sangat ibunya inginkan.

“Bukankah harusnya kamu bisa menyelesaikan hafalanmu minggu depan, Umai?” tanya Pak Ustadz yang gadis itu paksa menyimak hafalannya.

“Saya ingin segera menyelesaikannya malam ini, Pak Ustadz,” jawabnya.

Malam itu, selepas sholat isya’, setelah menyelesaikan hafalannya, Umaiza melangkah pulang dengan riang. Dia mampir ke warung Pak Hasan, membeli kertas kado, menulis surat dan meminta ustadznya membungkus kadonya dengan rapi.

Mungkin kala itu sesuatu menari-nari di benaknya, wajah bahagia sang Ibu ketika membuka kado. Pun rasa bangga beliau karena gadis ciliknya telah menyelesaikan hafalan Al Qur’an. Seperti apa yang beliau impikan.

Namun apa yang terjadi?

Malam itu, gempa menimpa Lombok. Umaiza, gadis kecil itu turut merasakannya getarannya. Dia bahkan sempat oleng. Gadis sekecil itu tentu tidak bisa langsung menyesuaikan dengan getaran hebat. Dengan langkah kecilnya dia berlarian menuju rumah. Meski kemudian gelap menghampiri. Meski sepanjang jalan, dia melihat rumah-rumah runtuh juga bangunan yang hanya tersisa puing-puingnya, dia tetap berlari seraya berteriak memanggil ibu dan beristighfar.

Namun di sana, saat dia menghentikan langkahnya, dengan napas yang tersengal-sengal, dia tertegun di sebuah lahan tempat sebuah bangunan berdiri yang selalu menjadi tujuan dia pulang. Di tempat ibunya biasa menunggu dirinya sepulang mengaji sembari tersenyum, dia tidak menemukan seraut wajah ibunya yang teduh. Dia hanya menemukan reruntuhan bangunan.

Tapi itu rumahnya. Kenapa tidak ada atapnya? Kenapa jendelanya terlepas? Dimana ibunya? Pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak masuk dalam pikiran Umaiza. Hatinya gundah. Resah memikirkan dimanakah pemilik surganya itu kini berada.

Dan tanpa memikirkan resiko keselamatannya sendiri, si kecil Umaiza pun menerobos masuk dalam reruntuhan. Dia tidak perduli apa yang nanti menimpa dirinya. Sebenarnya, mungkin juga dia tidak tahu. Dia hanya berharap bisa menemukan wajah ibunya yang sedang tersenyum menunggunya pulang. Berharap menemukan kehangatan pelukan yang selalu dia rasakan. Sayangnya, tiba-tiba semua gelap. Kesadarannya pun hilang.

Hingga esoknya, gadis itu menemukan dirinya terbaring dalam tenda. Sejauh mata memandang, semua rata dengan tanah. Ada bu ustadz di sampingnya, tetapi tidak dengan ibunya.

“Kemana ibuku?” begitu tanya yang terlontar dari bibir mungilnya.

Bu ustadz menangis. Beliau memeluk tubuh mungil Umaiza seraya mengusap punggungnya. “Bersabarlah, Nak. Ibumu telah pergi menyusul ayah. Kamu sama Ibu saja ya, Sayang.”

Gadis cilik itu tergugu. Dia terdiam dalam pelukan bu ustadz. Air matanya meleleh. Ibunya telah pergi menyusul ayahnya. Tepat di hari ulang tahun beliau. Meninggalkan dia sendiri. Bersama dengan kado yang ingin dia berikan juga keberhasilannya menyelesaikan hafalan. Ibunya belum sempat tersenyum bangga dengan pencapaiannya. Dia juga belum sempat menatap wajah bahagia ibunya saat menerima jilbab yang beliau idam-idamkan. Lalu kenyataan apa ini?

Gempa itu merenggut nyawa ibunya yang bahkan belum menerima surat yang Umaiza tuliskan. Surat yang dia awali dengan kalimat "Ku persembahkan untukmu, Ibu" Dan di akhiri dengan kalimat, "Aku yang selalu menyayangi Ibu"

***

Beberapa tahun telah berlalu. Apa kabarmu Umaiza? Mungkin kamu tidak tahu, jika ada haru yang tercipta dalam ceritamu. Mungkin kamu tidak mengerti, jika ada salah satu koleksi brand busana muslim yang menggunakan namamu. Terlebih, kami tidak tahu bagaimana kamu tumbuh baik hingga hari ini, dek. Tetapi, semoga engkau selalu sehat, selalu dalam lindunganNya dan semoga engkau tidak berkecil hati dengan segala hal yang telah engkau lalui, dek.

Kisah yang dibawa Teh Dinii Fitriyah, owner Mouza Indonesia, kala menjadi relawan di Lombok beberapa tahun silam.

[End]

With Love
TTD yunibintsaniro.com