Sahabat tak perduli seburuk apa omongan orang lain tentangmu, karena mereka mengenalmu jauh lebih baik dari itu.


Ara terlihat duduk bersama ketiga sahabatnya di taman depan Fakultas Pertanian sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Bangkalan. Laras, Naila dan Pipit. Mereka memang lebih senang nongkrong di sana, sembari menunggu kelas dimulai atau sekedar menghabiskan waktu.

Saat ini, mereka tengah mengerjakan tugas di laptop masing-masing. Tanpa banyak percakapan. Hanya sesekali, mereka akan terlibat diskusi seru mengenai apa yang mereka kerjakan itu.

“Ngerjain apa, Ra?” seorang mahasiswa mendekat dan duduk di samping Ara.

Sumber : pixabay.com

Namanya Doni. Dia adalah teman satu jurusan mereka berempat. Jurusan Agroekoteknologi. Sebenarnya sudah bukan rahasia umum lagi bahwa Doni selalu berusaha mendekati salah satu di antara mereka berempat. Ara lebih tepatnya. Dia sangat menyukai gadis itu. Baginya, Ara adalah gadis yang menarik, apa adanya dan meski terlihat keras tetapi Ara juga sangat baik hati. Dia tidak akan segan-segan untuk membantu teman yang lain jika memang dibutuhkan. Meski banyak gadis yang seperti itu, tetapi di mata Doni, Ara sangat istimewa.

“Don, cuma Ara doang yang disapa? Emang kami kamu anggap apa di sini?” ejek Naila.

“Bagi Doni, kita bertiga mah cuma makhluk astral yang selalu membayangi Ara, Nai,” jawab Laras.

“Emang,” sahut Doni yang tak bisa menahan gelak tawanya.

Pipit dan Ara tidak menanggapi celoteh mereka seperti biasa. Mereka tetap fokus mengerjakan apa yang sedang mereka kerjakan. Selanjutnya yang terjadi adalah Doni yang mengajari Naila dan Laras mengenai tugas-tugas perkuliahan, mengundang teman-teman yang lain ikut mendekat. Dia memang salah satu mahasiswa pintar di angkatan mereka. Tak heran, jika dia sering dimintai contekan oleh teman-teman sekelas, dan dia tidak pernah keberatan dengan itu.

Bagi Doni tak masalah teman-temannya mengambil keuntungan dari kepintarannya. Dia tidak pernah merasa dirugikan. Dia juga tidak keberatan meski hanya dirinya yang mengerjakan tugas kelompok sementara anggota yang lain tidak membantu. Dia hanya memperdulikan satu hal. Namun, seseorang yang dia perdulikan tidak pernah menjadi seperti teman-temannya yang lain.

“Ra, mau aku bantuin ngerjain tugasnya nggak?” tanya Doni.

“Nggak perlu, Don,” jawab Ara, “nanti kalau aku nggak bisa, paling aku nanya kamu,” lanjutnya lagi.

“Kerjain punyaku aja ya, Don!” pinta Naila.

“Punyaku juga dong,” sahut Laras.

“Kalau nggak mau ngerjain tugas sendiri, nggak usah kuliah sekalian,” omel Pipit yang membuat kedua sahabatnya cemberut.

Yah, Ara memang tidak pernah memintanya untuk mengerjakan tugas atau apapun. Dia mungkin akan bertanya. Hanya sebatas pertanyaan mengenai hal-hal yang tidak dia mengerti. Selanjutnya, Ara akan berusaha menyelesaikan hal itu bersama ketiga sahabatnya. Meski sesekali Doni akan ikut bergabung bersama mereka.

“Ra, Doni naksir kamu katanya,” goda salah satu temannya di kelas.

“Iya, Ra. Kalau di kontrakan yang diceritain cuma kamu aja,” sahut yang lain.

Namun sayangnya, Ara tidak pernah menanggapi perasaan Doni ataupun godaan teman-temannya. Lebih tepatnya dia selalu acuh tak acuh jika lelaki itu mulai menunjukkan perhatian di luar batas kewajaran pertemanan. Baginya, Doni hanya seorang teman yang baik. Tidak lebih. Sejak awal dia memang merasa nyaman berbincang dengan lelaki itu, tetapi bukan nyaman sebagai seorang wanita yang menyukai lelaki.

“Kamu pacaran sama Doni, Ra?” tanya Selly, salah satu teman satu jurusan mereka.

“Nggak. Kami cuma berteman sama seperti kamu dan yang lainnya,” jawab Ara. Selalu begitu. Tidak pernah berubah.

“Tapi kayaknya Doni ngarepin kamu banget deh, Ra. Bener kamu nggak mau nerima perasaan dia."

Ara hanya menanggapi setiap godaan teman-temannya dengan tersenyum. Fokusnya saat ini hanya kuliah dan lulus tepat waktu. Baginya, sudah tidak ada waktu lagi yang tersisa untuk berpacaran dan sebagainya. Dia tidak ingin menambah beban orang tuanya dengan berlama-lama menghabiskan waktu di bangku kuliah. Dia menyadari, ada adik-adiknya yang membutuhkan biaya pendidikan selain dirinya.

“Ra, sudah makan siang? Ke kantin yuk!” ajak Doni suatu siang ketika kelas mereka baru saja selesai.

“Don, kita juga lapar. Beneran cuma Ara aja yang kamu ajak nih?” sahut Laras.

“Mana mungkin begitu. Kalau ngajak Ara ‘kan harus sama paket komplitnya. Udah hapal aku, Ras,” jawab Doni.

“Ra, mau ‘kan?” tanya Naila.

Cerita Mini Lainnya Tentang Arti Sahabat


Gadis itu memang tidak pernah mau pergi berdua saja dengan Doni. Kalaupun terpaksa harus, dia memilih tempat umum yang ramai oleh lalu lalang orang. “Nggak nyaman, Pit. Lagi pula biar dia juga nggak berharap banyak ah.” Selalu itu jawaban yang dia berikan ketika Pipit berkata tidak mengapa jika dia memang harus pergi berdua dengan Doni. Meski pada kenyataannya, Ara tidak pernah membiarkan Doni membayar semua tagihan makanan para sahabatnya.

“Bilangnya nggak suka. Tapi kalau ada tugas larinya ke Doni,” cibir Selly dan teman-teman yang lain di belakang Ara.

“Iya. Sama orangnya nggak suka tapi kalau dijajanin seneng,” sambung yang lain.

“Kalian kayak nggak tahu aja. Dia ‘kan lagi sok jual mahal,” sahut yang lain.

Tak sekali-dua kali Ara mendengar cibiran-cibiran seperti itu. Namun, dia tidak perduli. Selama ini, dia sudah berusaha untuk tidak memberi harapan apa pun pada Doni. Beberapa kali juga dia bersikap ketus pada Doni agar lelaki itu menyerah dan berhenti berusaha mendekatinya. Bukan salah dia kan kalau Doni masih terus saja berusaha menarik perhatiannya.

“Ra, tugasmu sudah selesai ‘kan?” tanya Doni setiap kali akan mengumupulkan tugas.

“Sudah.”

“Siapa yang ngerjain, Ra? Doni ya?” sindir Selly.

“Yee, enak aja kamu ngomong, Sel. Ara ngerjain tugasnya sendiri lah. Emang kamu suka nyontek tugasnya Doni,” sahut Laras tidak terima.

“Alah, kayak kita percaya aja kalau bukan Doni yang ngerjain tugas kalian,” sambung yang lain.

Setiap Naila ingin membalas cibiran-cibiran mereka, Ara selalu melarang. Dia tidak ingin sahabatnya bertengkar hanya karena masalah sepele. Meski akibatnya, semakin banyak teman yang salah menilai dirinya. Dia tetap tidak mau perduli. Toh dia tidak akan hidup dengan semua penilaian itu. Ada atau tidak adanya semua tatapan sinis mereka, Ara tetap harus melalui kehidupannya sendiri. Menghadapi masalahnya sendiri.

“Kamu kalau nggak suka sama Doni, jauhi dia, Ra,” perintah Pipit saat mereka hanya duduk berdua saja.

Sumber : Pixabay.com

“Kenapa emang, Pit?”

“Kamu udah tahu ‘kan teman-teman pada ngomongin kamu. Mereka bilang kamu cuma manfaatin Doni.”

“Biarkan saja mereka mau bilang apa, Pit. Yang penting kamu, Naila dan Laras tahu kalau aku nggak begitu.”

“Iya sih, Ra. Tapi kadang aku gerah dengar omongan mereka jelek-jelekin kamu, Ra.”

“Ya udah, jangan didengerin!”

Bagi Ara tidak penting bagaimana pun penilaian orang lain tentang dirinya. Seburuk apa pun itu. Lagi pula, dia tidak kuasa mengubah apa pun sesuai kehendaknya. Meminta mereka berhenti pun percuma, karena mereka hanya ingin melihat apa yang mereka ingin lihat. Mereka tidak akan perduli bagaimana keadaan sebenarnya.

End

With Love

#chalengemenulisblogjadibuku
#day5