Review Novel Resign By Almira Bastari

Cover Novel Resign

Review Novel Resign By Alnira Bastari - Sebagai seorang cungpret (singkatan dari Kacung Kampret, eh bener nggak ya singkatannya?), akan selalu ada alasan untuk mengumpat seorang bos. Apalagi bos yang selalu ingin kesempurnaan di setiap pekerjaan stafnya.

Belum lagi makian pedas yang menyertai jika pekerjaan itu nggak sesuai dengan harapan si bos. Kadang kala berhasil membuat cungpret merasa dongkol. Bahkan seandainya saja bisa, cungpret akan membentak balik si bos. Kalau perlu sekalian dengan tindakan fisik.

Meski nominal gaji dan bonus yang diberikan terbilang cukup tinggi hingga menyerupai gunung Himalaya sekali pun. Yang namanya manusia, nggak banyak yang langsung merasa puas.

Sekilas, itulah ide yang diceritakan Kak Alnira Bastari dalam novelnya yang berjudul Resign. Tentu sedikit banyak teman-teman sudah paham dong, novel ini tentang apa?

Lantas, apa saja yang menarik dalam novel ini? Saya akan sedikit memberikan ulasan mengenai Review Novel Resign. Tapi tentu saja bukan sebagai seorang ahli ya. Anggap saja sebagai penikmat novel yang amatir sekali masalah kepenulisan. Hehehe…

Detail Novel Resign


Pertama kali membeli novel, apa sih yang menjadi penilaian kita? Covernya? Sinopsisnya? Atau penulisnya?

Kalau hal itu ditanyakan pada saya, maka jawabannya adalah siapa penulis novel itu. Karena sama seperti teman-teman. Saya pun punya penulis favorit. Salah satunya adalah Kak Almira Bastari ini.

Selanjutnya adalah cover novel terlebih synopsis ceritanya. Kalau membuat saya tertarik, maka akan saya masukkan keranjang untuk kemudian dipinang menjadi teman bersantai di akhir pekan.

Coba kita lihat bagaimana cover dan synopsis Novel Resign Kak Almira Bastari berikut ini :

Sinopsis Novel Resign

Menurut saya, ini menarik. Kak Almira memilih warna cover orange. Seger kayak buah jeruk. Mungkin agar terkesan eye catching. Jadi, orang akan tertarik dan berpikir, ”Gila, ada cerita apa nih sampai Resign dijadikan cerita novel romance begini?”

Ide Cerita


Jadi, apa yang membuat saya menyukai cerita ini? Apakah cerita cintanya memang seindah itu? Ini novel romance ‘kan?

Yupz. Ini adalah novel romance. Tapi, ceritanya sederhana. Seperti yang sempat saya ceritakan di awal tadi.

Bahwa ada beberapa cungpret yang merasa nggak sanggup lagi bekerja dengan si bos. Alasan kenggak sanggupannya pun beragam. Ada yang karena load pekerjaannya over dan ada juga yang ingin mencari perusahaan dengan gaji yang lebih besar.

Lalu bagaimana kisah romancenya?

Sebenarnya sih sudah umum ya. Bukan ide fresh lagi. Temanya kisah cinta bos dan anak buahnya begitu. Tapi, kan bagaimana ekseskusi penulis itu yang kadang membuatnya lain dari yang lain.

Katanya nggak ada yang salah sama kisah fiksi. Meski itu cerita yang nggak masuk akal sekali pun.

Tapi, Kak Almira nggak begitu. Dia menceritakan sesuatu yang memang sering dilakukan oleh para cungpret. Misalnya, ngerumpi di jam istirahat, menjadikan bos sebagai objek gossip dan lain sebagainya. Beberapa atau bahkan semuanya kayak pernah teman-teman lakuin pasti. Jika kalian pernah menjadi seorang pekerja di sebuah perusahaan.

Gaya Bahasa yang Digunakan


Ketiga adalah gaya bahasa. Menurut saya yang memang suka Kak Almira Bastari, gaya bahasa yang digunakan ringan. Nggak terlalu kaku. Bahkan saya sampai keasyikan membaca hingga seperti enggan berhenti sebelum tuntas sampai di penghujung cerita.

‘Kan kadang ada tuh, novel yang bahasanya kaku banget.

Meskipun sudah seharusnya, gaya bahasa yang digunakan dikondisikan dengan genre cerita yang dibuat. Atau menuruti budaya tempat dalam setting ceritanya.

Misalkan saja, dalam cerita ini mengambil setting di Jakarta. Tentu saja, penulis akan menyesuaikan dengan gaya bahasa anak Jakarta. Gaul dan pake sapaan lo-gue gitu deh.

Nah, kebayang dong gimana pentingnya riset saat akan menulis cerita? Nggak bisa main-main nih perkara menentukan gaya bahasa.

Sudut Pandang Cerita


Selanjutnya adalah sudut pandang yang digunakan. Kak Almira Bastari konsisten menggunakan sudut pandang orang pertama sejak awal sampai akhir cerita.

Jadi, tokoh “aku” hanya memahami dirinya sendiri. Apa yang terjadi di luar dirinya hanya sebagai sebuah kemungkinan atau sebatas prediksi.

Misal, saat tokoh “aku” menjalani interview sebelum masuk perusahaan itu. Raut wajah si bos terlihat terkejut di matanya. Dan dia hanya bisa bertanya-tanya kenapa raut wajah bosnya seperti itu.

Kemudian butuh beberapa waktu untuk tokoh “aku” mengetahui apa penyebabnya. Itu pun setelah dijelaskan langsung oleh si bos dalam satu plot cerita. Nggak serta-merta mengetahui seolah tokoh “aku” adalah Tuhan Yang Maha Tahu.

Pun begitu dengan perasaan seorang. Tokoh “aku” nggak begitu saja mengetahui bahwa si doi menyukainya. Bahkan dia nggak “ngeh” jika ada seorang yang begitu perhatian padanya.

Justru yang mengetahui itu adalah tokoh lainnya. Dalam hal ini oleh Sandra, si cungpret termuda yang konon menyukai si bos. Itu pun diceritakan di akhir cerita. Ketika semua rahasia telah terbongkar. Meski sebagai pembaca, kita selalu mempunyai prediksi siapa menyukai siapa dalam cerita.

Tokoh dalam Cerita


Ada berapa tokoh dalam novel ini? Selain tokon “aku” dan tokoh “Tigran” sebagai bos. Ada beberapa tokoh pendukung lain, seperti para cungpret yang hobi bergosip. Juga bos besar, dan saudara Tigran.

Meski begitu, sebagai tokoh sentranya tetap saja tokoh “aku” dan pendampingnya.

Sementara itu, berbicara mengenai tokoh dalam cerita tu agak rumit. Karena kita akan berbicara mengenai karakter yang dibangun oleh penulis.

Namun, menurut saya sebagai penikmat cerita, saya menyukai setiap karakter tokohnya. Terlepas itu tokoh antagonis atau pun protagonist. Karena apa?

Kak Almira membuatnya konsisten. Nggak ada ceritanya tuh tokoh yang punya karakter baik di awal tiba-tiba jahat di pertengahan. Atau sebaliknya. Selalu ada sebabnya mengapa sang tokoh mempunyai sifat begini dan begitu.

Misalkan saja, tokoh “Tigran” yang menjadi bos para cungpret. Sejak awal cerita dia selalu perhatian pada tokoh “aku”. Meski tokoh “aku” nggak menyadarinya. Kita bisa melihat dari tokoh “Tigran” yang seolah mengetahui kemana pun tokoh “aku” pergi.

Mengapa dia bersikap seperti itu? Semua ada kisahnya. Bukan sekedar cinta pada pandangan pertama saat Tigran mewawancarai tokoh “aku” sebelum masuk perusahaan lho ya. Ada alur yang membuat Tigran menyukai tokoh “aku”.


Ah, sudahlah. Intinya ini hanya penilaian dari seorang penikmat novel. Kalau ditanya apa saja kekurangan dari novel ini, maka saya nggak bisa memberikannya. Why?

Entahlah. Sepertinya saya terlalu menikmati hingga nggak menemukan celahnya. Tapi, bukan berarti kalian nggak bisa menemukannya.

Kita selalu mempunyai penilaian masing-masing untuk satu objek. Nggak pernah bisa selalu persis sama. Bahkan untuk saudara kembar sekali pun.

Kalau sebagai hiburan akhir pekan, novel ini bisa bangetlah menemani teman-teman. Kalian bisa meminjam ke teman, perpustakaan daring seperti ijak, ipusnas dan lain sebagainya. Atau berlangganan gramedia digital. Yang jelas, tolong jangan membeli bajakan ya! Apalagi ebook illegal. Cemiau.

Salam Hangat Termanis

Post a Comment

0 Comments