Aku Takut Hamil. Apakah Itu Normal?

Hai, Sahabat Ceritaku! Ada satu hal yang ingin kuakui dengan jujur sebagai perempuan pada kalian. Aku takut hamil.

Tapi, bukan berarti aku nggak ingin hamil ya. Bohong banget kalau nggak ada keinginan saat melihat teman-teman sepantaranku anaknya sudah lebih dari satu.

Apalagi, di media sosial, banyak sekali calon ibu yang posting momen bahagia saat tahu pertama kali hamil lengkap sama foto USG-nya. Belum lagi, segala maternity shoot yang estetik itu.

Sumpah! Di sela-sela senyumku yang riang, terselip rasa ingin yang kuat. Aku kayak ngebet banget pingin hamil gitu lho.

Tapi, ya itu tadi. Aku takut hamil. Mana aku belum punya suami. Hamil saat ini juga, apa nggak digantung sama bapakku. Hehehe…

Menurut kalian, ketakutanku ini aneh nggak sih?

Aku Bukan Takut pada Bayinya

aku bukan takut sama bayi
tilik bayi teman


As a woman yang nantinya akan berkeluarga, harusnya aku tuh membayangkan kehamilan sebagai sesuatu yang indah. Betul nggak, Sahabat Ceritaku?

Tapi, gimana ya?

Aku tuh nggak bisa bohong. Tiap kali memikirkan soal program hamil, yang terbayang bukan tentang perubahan fisik doang.

Aku tahulah fisik yang berubah saat hamil itu hal yang biasa. Bagiku, nggak masalah sama sekali.

Aku hanya membayangkan kondisi saat persalinan dan setelahnya. Rasa sakit pas kontraksi. Pas proses melahirkan.

Duh. Membayangkannya saja, sudah ngeri duluan akutu.

Belum lagi, aku yang sudah terbiasa menjadi perempuan yang mandiri, menghidupi diriku sendiri, bisa menulis dan bepergian kapanpun aku mau tanpa banyak pertimbangan.

Bakal kehilangan itu semua karena kehamilan tuh rasanya agak gimana gitu.

Intinya, aku nggak takut sama bayi. Buktinya, saat bibiku habis melahirkan dan harus rawat inap di rumah sakit, aku lho yang merawat bayinya di rumahku.

Meski nggak mudah. Harus begadang pula karena si bayi ngajakin melek an.

Memangnya, apa saja ketakutanku soal kehamilan? Ada tiga hal yang menghantuiku kalau aku lagi memikirkan soal kehamilan.

1. Takut pada Rasa Sakit Saat Proses Melahirkan

Nggak usah ketawa! Aku tahu kok ini tuh alasan ketakutan yang paling klasik. Gimana bisa cewek takut sama rasa sakit yang luar biasa saat proses melahirkan?

Aku tahu sih, nggak ada angka yang pasti untuk menggambarkan rasa sakit. Cuma, aku sering mendengar, katanya rasa sakit saat melahirkan tuh setara dengan 20 tulang yang patah secara bersamaan.

Gila! Satu tulang jariku yang patah aja, sakitnya minta ampun. Apalagi 20 tulang. Bersamaan pula.

Belum lagi, cerita-cerita tentang kontraksi. Rasa nyeri yang datang dan pergi. Pembukaan yang sakit dan bisa berlangsung sampai berjam-jam. Perjuangan antara hidup dan mati mengeluarkan bayi.

Jujurly, aku keder sendiri membayangkannya.

Tapi bukan berarti nggak ada jalan keluar dari rasa sakit tersebut ya. WHO pun ikut merekomendasikan manajemen rasa nyeri saat melahirkan. Ada yang pake teknik relaksasi dan ada juga yang pake teknik manual.

Meski begitu, sayangnya nggak mengurangi rasa takutku. Soalnya, rasa sakit saat proses melahirkan jelas nggak bisa diwakilkan. Nggak bisa dibagi dua, meski suami amat sangat mencintai.

Semua rasa sakit itu harus kujalani sendiri. Hebat ya, perempuan!

Iya. Nggak usah bawel deh, Sahabat Ceritaku. Aku tahu kok kodratku sebagai perempuan.

Semisal, aku nanti sudah sampai di fase itu, aku nggak hanya akan membaca informasi seputar cara agar cepat hamil atau program hamil.

Aku juga akan menemukan versi diriku yang lebih kuat dari yang kubayangkan sekarang.

Untuk saat ini, aku harus mengakui bahwa aku masih takut. Tapi aku percaya, keberanian bukan nggak pernah mengenal rasa takut.

Keberanian adalah gimana aku tetap melangkah meski rasa takut itu ada. Benar ‘kan, Sahabat Ceritaku?

2. Takut Secara Mental

Urusan perubahan fisik, aku nggak masalah. Normalnya emang pasti ada yang berubah kalau sudah hamil dan melahirkan. Paling nanti aku akan berusaha jaga kondisi badan saja. Biar terus sehat.

Masalah yang paling kucemaskan adalah mental. Aku bukannya nggak pernah dengar atau baca soal baby blues dan postpartum depression.

Saat ada kejadian itu, aku mungkin nggak hanya akan berpotensi untuk menyakiti diriku sendiri. Lebih dari itu, aku bisa saja menyakiti bayiku. Atau paling parahnya sampai ada lho kasus bayi meninggal.

Aku takut berubah jadi sosok lain yang bahkan nggak kukenali. Gimana kalau aku merasa sendirian di tengah tangisan bayiku? Gimana kalau bukannya menjaga, aku malah membahayakannya?

Baca juga:

3. Takut Nggak Bisa Menjadi Ibu yang Baik

Dari semua fase hidup perempuan, fase ini yang sangat menakutkan. Bukannya apa. Yang terlibat bukan hanya diriku sendiri. Tapi, masa depan anakku juga.

Gimana kalau aku nggak bisa jadi ibu yang baik?

Aku takut mengulang pola asuh yang salah. Takut kurang sabar menghadapi anakku yang tantrum. Khawatir terlalu keras pada anak. Atau malah terlalu lembek.

Iya sih. Aku tahu. Aku bisa melihat dan belajar dari berbagai tipe ibu yang ada di sekitarku.

Pasti adalah di antara mereka yang hangat dan penuh pelukan. Mungkin ada yang tegas dan disiplin. Bisa jadi, ada yang sering lelah tapi terus berusaha untuk terlihat kuat.

Anakku ‘kan bukan proyek yang bisa kurevisi kalau salah didikan. Masa kecil mereka, mana bisa terulang kalau aku keliru.

Gimana kalau emosiku nggak stabil? Terus tanpa sadar malah bikin perasaan anakku terluka karena kata-kata yang nggak seharusnya kuucapkan.

Jadi ibu ‘kan nggak hanya tentang hamil dan melahirnya saja. Yang paling penting malah setelahnya. Membersamai anak dengan segenap cinta untuk mengantar mereka ke masa depan yang terbaik.

Tekanan Sosial yang Tak Terucap

aku takut hamil

Yang bikin aku makin puyeng tuh bukan cuma ketakutan dari dalam diriku sendiri. Tapi, aku masih memikirkan gimana reaksi orang terhadap kehamilan.

Wong kayaknya bagi orang kebanyakan, perempuan menikah tuh gongnya adalah cepat hamil. Bahkan sebelum menikah, mereka dengan keponya bertanya soal mau punya anak berapa nanti.

Aku merasa nggak ada orang yang mau capek-capek memberi ruang untuk orang-orang sepertiku yang masih merasa takut.

Mereka beranggapan kalau aku kelamaan belum punya anak, ntar aku sulit punya anak. Atau lebih buruk lagi, mereka bilang kalau aku mandul.

Padahal, anak ‘kan sama saja kayak harta. Cuma titipan. Tuhan yang bebas mau memberikan titipannya kepada siapa. Aku benar dong, Sahabat Ceritaku?

Apakah Takut Hamil Itu Normal?

Aku nggak tahu apakah perasaan takut hamil bagi perempuan itu sesuatu yang normal.

Yang jelas, aku paham satu hal. Takut adalah respon alami. Dalam hal ini, aku berhadapan dengan sesuatu yang besar dan sangat mungkin akan mengubah hidupku.

Soalnya, kehamilan bukan cuma tentang sembilan bulan menunggu doang. Tapi, melibatkan tubuh, mental, relasi, finansial, dan masa depan.

Meski begitu, saat aku takut hamil, bukan berarti aku nggak ingin punya anak. Itu hanya tanda bahwa aku sadar betapa seriusnya peran seorang ibu.

Bukankah kesadaran itu adalah satu bentuk tanggung jawabku pada anak yang nantinya akan Tuhan titipkan padaku?

Baca juga:

Dari Takut Menjadi Persiapan

Ayolah! Aku sudah tahu bahwa nggak selamanya aku bisa menghindari kodrat hamil karena rasa takut. Tapi, sok berani tanpa persiapan apapun jelas kurang bijak.

Makanya, pelan-pelan aku mengubah rasa takutku jadi persiapan. Aku mulai belajar tentang kesehatan reproduksi, membaca tentang kehamilan dari sisi medis, dan persiapan lainnya.

Selain itu, aku mulai memikirkan soal dana darurat, asuransi, dan stabilitas finansial sebelum benar-benar mempersiapkan pernikahan lalu kehamilan.

Pertama-tama, aku memang butuh pasangan yang akan selalu support aku, baik sebagai ibu rumah tangga maupun freelancer.

Iyes. Aku ingin menikah nggak bikin aku jadi kehabisan waktu untuk menulis dan berkarya. Intinya, aku nggak ingin kehilangan ruang untuk diriku sendiri.

Aku sadar, menikah dan hamil bukan soal cepat atau lambat waktunya. Tapi, apakah aku sudah siap lahir dan batin menghadapi masa kehamilan dan menjadi ibu yang selalu belajar menuju ke arah yang lebih baik?

Aku Masih Takut. Dan Itu Nggak Masalah

Hari ini, saat aku menulis artikel ini, statusku masih single bahagia.

Masih bisalah menulis dengan santai. Kadang di kamar dengan secangkir kopi. Kadang melipir sambil nongkrong di café untuk cari suasana baru.

Please! Jangan tanya soal kapan aku akan menikah dulu ya! Apalagi pertanyaan seputar kapan hamil dan mau punya anak berapa.

Soalnya, aku juga bingung gimana mau menjawabnya. Lha, gimana dong? Yang tahu jawabannya cuma Tuhan. Nggak mungkin ‘kan aku minta kalian bertanya langsung padaNya. Hehehe…

Meski begitu, aku ingin kalian paham bahwa rasa takut hamil nggak bikin aku jadi kurang feminin. Aku selalu merasa layak jadi ibu yang baik kok.

Bisa jadi, suatu hari nanti, saat aku sudah menikah dan dua garis itu benar-benar menghampiriku, aku masih tetap takut. Tapi, aku jamin saat itu, aku sudah lebih siap.

Jadi, biarlah saat ini, aku berdamai dengan diri sendiri dulu. Nggak masalah kalau aku masih takut hamil. Dan aku nggak aneh. Aku masih sama normalnya dengan kalian lho, Sahabat Ceritaku.

Baca juga:

Posting Komentar

22 Komentar

  1. Hmm... saya pernah ada di posisi ini mbak
    Dulu 2012 saya bilang sama suami kalau punya anak apa kami sanggup?
    Saya memang punya adik 3 dan punya pengalaman menjaga mereka
    Tetapi tidak dengan menyusui dan hal hal yang cuma mamaku yang bisa handle

    Saya bahkan sampe nangis pas tahu juga kalau harus operasi
    Perjalanan hamilnya sampe muntah muntah hingga di meja operasi
    Dokter pun terheran-heran dengan kondisi saya

    Namun, saya lagi lagi dikuatkan sama teman teman bahwa menjadi ibu itu pilihan dariNya
    Meski kita gak mau, kalau Allah sudah bilang kun fa ya kun, yaa jadi
    Semangat ya Mbak
    Mungkin ada trauma yang tidak disadari dan pelan pelan bisa di-healing

    BalasHapus
  2. Mungkin itu hal yang wajar ya mbaaa klo ada rasa takut tapi bisa dianggap gak wajar kalo rasa takutnya berlebihan...selama mba yuni bisa merubah rasa takut menjadi sebuah persiapan yang matang itu malah bagus yang gak bagus kalo rasa takut membuat kita stuck jalan di tempat karena kadang rasa takut yg selama ini kita pikirkan setelah kita menjalaninya ternyata biasa saja :)

    BalasHapus
  3. Kadang kita overthinking dan takut kepada sesuatu padahal belum terjadi. Dari pengalamanku 2x hamil, not that bad. Melahirkan tidak sesakit itu karena kalah akan rasa exciting dalam menanti datangnya anak kesayangan.
    Tapi jika memang ada ketakutan mending ke psikolog dulu, nanti bisa dicari akar masalahnya mengapa jadi takut hamil.
    Bicarakan juga dengan calon suami jadi bisa ada program penundaan kehamilan sampai kamu benar-benar siap.

    BalasHapus
  4. Manusiawi banget kok.
    Tiap orang pasti punya rasa takutnya sendiri2.
    tapi, kita bisa kendalikan dgn berbagaj metode, ya. Ke psikolog utk memetakan kenapa kita punya kecenderungan overthinking atau khawatir yg (mungkin) berlebihan.
    ini bisa jadi salah satu solusi.

    BalasHapus
  5. Aku yang nemenin istriku dari awal hamil sampe lahiran aja ya, mewajarkan kalau sampe sekarang blio masih takut buat hamil lagi. Karena memang, liat betapa banyak perubahannya dan hal-hal yang membuatnya tidak nyaman, itu bener-bener sulit dibayangkan si.
    Pas hamil muda, mual dan muntah-muntah mulu. Apa aja susaaaaah deh buat masuk. Nah pas kehamilannya makin tua, kebalikannya. Semua makanan ia mau, dan masuk. Tapi postur badannya bikin dia jadi gak nyaman. Tidur posisi apapun, rasanya gak enak.
    Dan terakhir, sakit pasca melahirkan itu lumayan lama kerasanya, bisa tiba-tiba kerasa lagi satu waktu.

    BalasHapus
  6. Wajar teh manusiawi karena kita kan blm pernah mengalami sebelumnya, nanti ketika.moment hamil itu ada seiring berjalan nya waktu memaksa siap pribadi kita saat hamil. Gak akan lost gitu aja pas hamil tiba2 nyari tahu apa yg harua dilakukan ketika hamil karena ada calon bayi di rahim kita naluri itu akan muncul secara alamiiiiiii kaka

    BalasHapus
  7. Kita kebalik mba. Aku bukan takut hamil, tapi aku benci hamil dan punya anak. Memang sih ini pasti bakal JD kontroversi dikalangan Orang2 konservatif.

    Dulu sebelum nikah Ama suami, aku dan mantan udh sepakat memang ga tertarik punya anak. Kami berdua ga suka anak. Tp ga jodoh Ama dia, ketemu suami. Eh, dia malah pengen punya 😫.

    Kami sempet putus Krn masalah ini juga. Tp kemudian nyambung lagi, dan disitu akhirnya bikin kesepakatan.

    Aku mau hamil dengan syarat. Dia harus sediakan babysitter, Krn aku ga yakin bisa jaga bayinya. Dan aku wajib Caesar. Ga tertarik samasekali lahiran normal.

    Untungnya 2 babysitter yg aku punya utk asuh anak2, baik banget dan sangaaat keibuan. Jujur ya anak2ku sampai usia 6 tahun itu yg mendidik , menjaga, semuanya babysitter. Dan aku bersyukur, mereka JD anak2 yg ceria, baik, sopan, berkat babysitter. Kalau aku yg didik, aku ga yakin mereka tumbuh sebaik itu.

    Lahiran pun aku pilih Caesar, Krn aku ga mah ngerasain sakitnya. Caesar, sakitnya setelah operasi. Tp itupun hanya sakit Krn luka operasi, sesuatu yg aku yakin bisa tahan.

    Tp kalau lahiran normal, akh ga yakin sanggub.makanya di awal aku LGS minta dokter, wajib Caesar. Normal itu memang ga ada terlintas sedikitpun dlm pikiranku.

    Sekarang ini kalau ditanya apa aku udh berubah, tetep belum. Aku ga bakal tertarik hamil lagi. Tapi untungnya hubungan Ama anak2 udh mendingan , Krn mereka udh gede juga. Tp kamu LBH mirip teman, drpd ibu anak.

    Aku bilang sih ke anak2, kalau mereka mau punya anak setelah nikah, itu hak mereka. Tp kalau ga pun, ya ga usah merasa bersalah. Kalau semisal suaminya bisa kayak suamiku, mau memenuhi syarat supaya aku setuju hamil, oke fine. Tp kalau ga mampu, ga usah nikah lah. Krn kasian anaknya.

    Ibu yg tidak siap punya anak, dan tidak ada support system, percayalah, dia bakal stress berat. Aku bersyukur Krn ada support system dari suami dan babysitter

    BalasHapus
  8. hamil, dan menjadi seorang ibu adalah karunia terbesar bagi seorang perempuan. Jadi seharusnya disambut dan dijalani dengan kebahagiaan. Justru kalau dari awal sudah berpikiran ini dan itu, maka akan semakin terbebani dan malah stress. Percayaalah anak itu rezeki, jadi Insya Allah akan dimudahkan segala urusan ini itu. Misalnya soal perubahan bentuk tubuh, bisa nanti senam atau olahraga. soal keperluan selama hamil dan melahirkan, pasti ada saja rezekinya dan dimudahkan.

    BalasHapus
  9. Ternyata saya ga sendirian, saya pun takut hamil nih, karena memang saya sedang konsumsi obat keras jadi dilarang hamil, tapi kadang kalau terlambat datang bulan suka langsung parno heheh.

    BalasHapus
  10. Hmm.. tulisannya jujur banget dan menurutku banyak juga kok perempuan yang punya ketakutan yang sama. Manusiawi nggak sih.. Walau mungkin jarang diungkapkan dengan terbuka. Aku suka banget Mbak Yuni menjelaskan bahwa takut hamil bukan berarti tidak ingin punya anak, tapi justru menunjukkan kesadaran tentang besar dan beratnya peran menjadi ibu. Bagian tentang mengubah rasa takut menjadi persiapan juga terasa sangat relate buat aku.

    BalasHapus
  11. rasanya seperti sedang mendengar curhatan teman produktif yang sedang deep talk. Ketakutan itu sangat manusiawi dan normal banget, kok. Justru rasa takut itu muncul karena Kakak memandang peran ibu sebagai tanggung jawab besar, bukan sekadar status.
    Apalagi sebagai perempuan mandiri yang punya hobi menulis dan jalan-jalan, wajar jika ada kecemasan akan kehilangan "ruang diri". Tapi percaya deh, kesadaran untuk mempersiapkan mental dan finansial sejak sekarang adalah bukti Kakak calon ibu yang hebat nantinya.

    BalasHapus
  12. Takut jadi ibu itu wajar kok mbak. Malah saya pribadi berusaha mengurangi kata 'normal' pada ketakutan yang saya rasakan. Karena kalau saya lekatkan ketakutan dengan kenormalan, maka yang terjadi saya tidak bisa memproses ketakutan secara sehat.

    Alasannya sih .. normal itu sendiri juga ambigu. Normalnya menurut siapa? Makanya, lebih ngena kalau bilang wajar, karena ya memang wajar. 🥹🥹

    BalasHapus
  13. Percayalah mbak, semua ketakutan2 mbak itu benar adanya. Aku mengalami rasa takut itu juga, dan kenyataannya memang kejadian jg. Tapi…tapi… happy nya punya bayi itu, kaya bikin kita jd merasa semua rasa sakit dan perubahan itu gapapa. Alhasil jadi punya anak 3, hehehe. Semangat yaaa, insyaallah semua fase itu nanti akan terlalui dengan nyaman, dan gpp banget kok punya perasaan khawatir gitu, kita kan manusia yg punya rasa apalagi perempuan yg hatinya halus bgt

    BalasHapus
  14. Takut hamil dan melahirkan itu sangat wajar, baik yang sudah mengalami atau pun belum. Aku sendiri dulu waktu masih belum nikah nggak pernah mikirin itu sih. Baru setelah kejadian, kaget. Mending kaya mbak tahu dari awal apa yang akan dihadapi, jadi bisa memutuskan mau atau enggak. Daripada kaya aku nggak tahu dan nggak belajar apa-apa terus kaget 😆 Alhasil setelah hamil dan melahirkan yang pertama rasanya nggak mau lagi. Eh tapi fikasih rezeki hamil dan punya naka lagi. Ya sudah dihadapi saja. Syukurnya support systemnya sudah lebih mumpuni waktu hamil yang kedua.

    BalasHapus
  15. Walah. Relate banget ini sama pernyataan anak aku kemarin. Gak mau nikah. Gak mau hamil. Ngebatin aku, apa hubungan aku dan suamiku kurang membuat mereka tertarik ya, hahaha. Tapi lalu aku balikan lagi sih ke anakku. Takut punya anak karena apa? Tapi sudah tahu kan baik buruknya? Seperti kata mba Yuni di sini, menakutkan kalau belum dipersiapkan. Tapi kalau sudah siap, insya Allah lebih siap pastinya. Dan apapun, semua yang dirasa dan dipilih itu tentu manusiawi.

    BalasHapus
  16. Membaca tulisan Mbak Yuni kali ini rasanya seperti sedang diajak menyelami palung hati yang paling dalam dan jujur. Di tahun 2026, di mana semua orang berlomba-lomba menampilkan "kesempurnaan" hidup di media sosial, keberanian Mbak untuk menyuarakan rasa takut akan kehamilan itu adalah sebuah tindakan yang sangat heroik sekaligus memanusiakan kita semua.

    Sangat setuju dengan poin Mbak bahwa menjadi ibu atau calon ibu itu bukan sekadar soal kesiapan fisik, tapi soal kesiapan mental yang luar biasa besar taruhannya. Terima kasih sudah memvalidasi kalau merasa takut, cemas, atau belum siap itu normal dan bukan berarti kita kurang bersyukur.

    Tulisan ini benar-benar jadi ruang aman bagi perempuan lain yang mungkin merasakan hal yang sama tapi selama ini hanya bisa menyimpannya dalam diam. Sehat-sehat terus ya, Mbak, semoga langkah apa pun yang diambil selalu membawa ketenangan jiwa.

    BalasHapus
  17. Takut hamil itu lumrah. Selama menghadapi ketakutan diimbangi cari ilmunya juga. Dari pengalaman mbak aku memetik banyak pembelajaran berharga. Sebagai yang belum hamil rasanya memang ngeri membayangkan persalinan normal. Belum lagi harus standby jagain bayi.

    But, gapapa. Ada fasenya nanti bisa menikah dan lebih siap mental dkk untuk menyambut kehamilan dan persalinan. Semangat terus, peluk virtual.

    BalasHapus
  18. Gapapa mbak, hal yang wajar punya rasa takut, itu manusiawi. Namun yang penting adalah tidak memelihara rasa takut itu. Saya juga punya ketakutan pada hal lain, tapi atas bimbingan orang terdekat, saya berhasil menaklukan ketakutan itu dengan melakukan apa yang ditakutkan. Alhamdulillah berhasil mbak. Apa yang saya takuti tidak benar-benar terjadi, dan akhirnya saya lega, serta bahagia sampai kini. Malah pernah mentertawakan diri sendiri: "ngapain sih dulu takut begini begitu..." :D

    Bismillah, segala hal baik akan datang padamu mbak. Tidak ada lagi ketakutan, hanya ada keberanian. Aamiiin.

    BalasHapus
  19. Hehehe wajar mbak
    Aku yang punya suami aja takut hamil, kok
    Hehe
    Karena emang konsekuensi punya anak itu besar, nggak semua orang bisa melakukan dengan penuh tanggung jawab

    BalasHapus
  20. Hehehe wajar mbak
    Aku yang punya suami aja takut hamil, kok
    Hehe
    Karena emang konsekuensi punya anak itu besar, nggak semua orang bisa melakukan dengan penuh tanggung jawab

    BalasHapus
  21. Mbak Yuni,,,,kalau saya bukan takut hamil. Hamil sih gak masalah tapi yang lebih terpikirkan waktu dulu itu pas zaman-zamannya hamil-hamilan yaa lebih ke khawatir gak ada yang ngasuh anak saya karena saya kan kerja, jadi pasti butuh pengasuh. Khawatir bagaimana nanti kalau gak dapat pengasuh atau lebih ke males nyari pengasuh lagi. Punya anak itu repotnya paling sampai 3 tahun udah gede dikit mah apalagi kalau udah sekolah gak gitu repot, apalagi kalau dah gede-gede ah udah kek sahabatan aja gak ada repot-repotnya. Yang jelas pengalaman hamil dan melahirkan itu sesuatu yang imejing,,,kalau diinget inget lagi rasanya masya Allah deh ternyata saya bisa melewati masa-masa berat itu,,,,

    BalasHapus
  22. Jujur aku tu lebih respek sama mereka yang memiliki kekhawatiran menjadi ibu ketimbang yang bikin anak mulu tanpa perencanaan jelas.
    Memang memutuskan hamil dan punya anak kudunya dipikirin dulu.
    Meski demikian sebenarnya seorang perempuan diciptalan secara alamiah buat jadi ibu.
    Bahkan aku yang gak terlalu suka ank kecil juga akhirnya bisa juga jadi emak2. Tentu aja anak pertama yang ngajarin semua, walau keder juga hehe . Kalau soal sakit dan "insting" insyaAllah pasti bisa. Tetapi bener kalau soal hal2 lain di luar itu, semua wajib dipikirin ya mbak. Kalau kata dr. Goa rahim ti hak areanya Allah, jadi tergantung dia dikasi apa gak, dikasi kapan dll.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya, jika anda memiliki saran, kritik maupun pertanyaan silahkan tinggalkan komentar anda.