Dunia Alya

February 14, 2019




Author : @sriwahyuni1504
Sudah seminggu ini Aya menceritakan satu orang yang sama. Andre. Dan selalu tentang Andre. Jam berapa mereka bertemu, mereka bertemu dimana dan apa saja yang Andre lakukan seminggu ini.
Satu – dua kali aku tidak keberatan mendengar ceritanya. Atau kalau misalkan cerita itu menyenangkan kedua belah pihak, aku tidak masalah jika harus mendengarnya setiap malam dalam setahun ke depan. Namun, masalahnya ceritanya cukup tragis bagiku meski bagi Aya cerita – ceritanya selalu membuatnya bahagia, melayang dan entah kapan dia akan kembali jatuh ke bumi. Jadi, begini ceritanya.
Andre, cowok tampan seantero fakultas pertanian, salah satu universitas negeri di Malang. Siapa yang tidak mengenalnya. Maksudku cewek mana yang tidak menyukainya. Bahkan Aya, sahabatkupun begitu menggilainya. Tapi sayangnya, dia cukup dingin. Wajah tampan itu tidak pernah terlihat bersahabat dengan siapapun, apalagi dengan kaum hawa. Satu lagi, dia cukup temperamen. Kalau saja tidak tampan, mungkin dia bahkan tidak akan dianggap di kampus ini.
“Tadi aku ketemu Andre di parkiran Pertanian, Ta. Jam sepuluh. Dia melirik ke arahku.”
Ceritanya malam ini. Bukan hanya malam ini, malam – malam sebelumnya juga ceritanya hanya sebatas itu. Wajahnya sungguh terlihat berseri – seri. Padahal kalau saja dia mau sedikit saja waras, versi nyata dari cerita itu hanyalah Aya yang tidak sengaja berpapasan dengan Andre di parkiran kendaraan, di kantin fakultas atau malah di perpustakaan. Dan masalah lirikan itu, bisa jadi itu hanya Andre yang tak sengaja melihat ke arahnya. Mungkin dia tidak benar – benar menganggap Aya ada disana.
“Bukankah tadi kamu juga asyik sekali ngobrol dengan Dedi. Apa sih yang kalian obrolkan?” dan memang benar tadi tanpa sengaja aku melihat Aya dan Dedi sedang mengobrol di taman kampus. Bukan obrolan yang menyenangkan kalau melihat dari cara Aya bicara. Dia selalu saja ketus pada Dedi.
“Ah Dedi mah nggak penting. Dia selalu saja mencari – cari alasan untuk ngobrol denganku.”

Yah, Aya membenci Dedi hanya karena Dedi ketahuan menyukai Aya. Padahal Dedi cukup pintar di kelas. Masalah penampilan memang dia kalah dibanding dengan Andre. Tapi tidakkah Aya tau hidup tidak akan cukup jika hanya bermodal penampilan saja. Sekali saja, kalau Aya bisa waras dalam menilai, dia akan lebih mudah tertawa dengan Dedi disampingnya. Namun apa mau dikata, Aya sudah terlanjur membenci Dedi yang selalu bisa membuatnya tertawa. Dia malah cinta mati pada Andre yang bahkan tidak pernah menganggapnya ada. Baginya dunianya adalah Andre bukan Dedi.

You Might Also Like

0 Comments

Terima kasih atas kunjungannya, jika anda memiliki saran, kritik maupun pertanyaan silahkan tinggalkan komentar anda.

Popular Posts

Komunitasku

Komunitasku