Aku Takut Hamil. Apakah Itu Normal?

Hai, Sahabat Ceritaku! Ada satu hal yang ingin kuakui dengan jujur sebagai perempuan pada kalian. Aku takut hamil.

Tapi, bukan berarti aku nggak ingin hamil ya. Bohong banget kalau nggak ada keinginan saat melihat teman-teman sepantaranku anaknya sudah lebih dari satu.

Apalagi, di media sosial, banyak sekali calon ibu yang posting momen bahagia saat tahu pertama kali hamil lengkap sama foto USG-nya. Belum lagi, segala maternity shoot yang estetik itu.

Sumpah! Di sela-sela senyumku yang riang, terselip rasa ingin yang kuat. Aku kayak ngebet banget pingin hamil gitu lho.

Tapi, ya itu tadi. Aku takut hamil. Mana aku belum punya suami. Hamil saat ini juga, apa nggak digantung sama bapakku. Hehehe…

Menurut kalian, ketakutanku ini aneh nggak sih?

Aku Bukan Takut pada Bayinya

aku bukan takut sama bayi
tilik bayi teman


As a woman yang nantinya akan berkeluarga, harusnya aku tuh membayangkan kehamilan sebagai sesuatu yang indah. Betul nggak, Sahabat Ceritaku?

Tapi, gimana ya?

Aku tuh nggak bisa bohong. Tiap kali memikirkan soal program hamil, yang terbayang bukan tentang perubahan fisik doang.

Aku tahulah fisik yang berubah saat hamil itu hal yang biasa. Bagiku, nggak masalah sama sekali.

Aku hanya membayangkan kondisi saat persalinan dan setelahnya. Rasa sakit pas kontraksi. Pas proses melahirkan.

Duh. Membayangkannya saja, sudah ngeri duluan akutu.

Belum lagi, aku yang sudah terbiasa menjadi perempuan yang mandiri, menghidupi diriku sendiri, bisa menulis dan bepergian kapanpun aku mau tanpa banyak pertimbangan.

Bakal kehilangan itu semua karena kehamilan tuh rasanya agak gimana gitu.

Intinya, aku nggak takut sama bayi. Buktinya, saat bibiku habis melahirkan dan harus rawat inap di rumah sakit, aku lho yang merawat bayinya di rumahku.

Meski nggak mudah. Harus begadang pula karena si bayi ngajakin melek an.

Memangnya, apa saja ketakutanku soal kehamilan? Ada tiga hal yang menghantuiku kalau aku lagi memikirkan soal kehamilan.

1. Takut pada Rasa Sakit Saat Proses Melahirkan

Nggak usah ketawa! Aku tahu kok ini tuh alasan ketakutan yang paling klasik. Gimana bisa cewek takut sama rasa sakit yang luar biasa saat proses melahirkan?

Aku tahu sih, nggak ada angka yang pasti untuk menggambarkan rasa sakit. Cuma, aku sering mendengar, katanya rasa sakit saat melahirkan tuh setara dengan 20 tulang yang patah secara bersamaan.

Gila! Satu tulang jariku yang patah aja, sakitnya minta ampun. Apalagi 20 tulang. Bersamaan pula.

Belum lagi, cerita-cerita tentang kontraksi. Rasa nyeri yang datang dan pergi. Pembukaan yang sakit dan bisa berlangsung sampai berjam-jam. Perjuangan antara hidup dan mati mengeluarkan bayi.

Jujurly, aku keder sendiri membayangkannya.

Tapi bukan berarti nggak ada jalan keluar dari rasa sakit tersebut ya. WHO pun ikut merekomendasikan manajemen rasa nyeri saat melahirkan. Ada yang pake teknik relaksasi dan ada juga yang pake teknik manual.

Meski begitu, sayangnya nggak mengurangi rasa takutku. Soalnya, rasa sakit saat proses melahirkan jelas nggak bisa diwakilkan. Nggak bisa dibagi dua, meski suami amat sangat mencintai.

Semua rasa sakit itu harus kujalani sendiri. Hebat ya, perempuan!

Iya. Nggak usah bawel deh, Sahabat Ceritaku. Aku tahu kok kodratku sebagai perempuan.

Semisal, aku nanti sudah sampai di fase itu, aku nggak hanya akan membaca informasi seputar cara agar cepat hamil atau program hamil.

Aku juga akan menemukan versi diriku yang lebih kuat dari yang kubayangkan sekarang.

Untuk saat ini, aku harus mengakui bahwa aku masih takut. Tapi aku percaya, keberanian bukan nggak pernah mengenal rasa takut.

Keberanian adalah gimana aku tetap melangkah meski rasa takut itu ada. Benar ‘kan, Sahabat Ceritaku?

2. Takut Secara Mental

Urusan perubahan fisik, aku nggak masalah. Normalnya emang pasti ada yang berubah kalau sudah hamil dan melahirkan. Paling nanti aku akan berusaha jaga kondisi badan saja. Biar terus sehat.

Masalah yang paling kucemaskan adalah mental. Aku bukannya nggak pernah dengar atau baca soal baby blues dan postpartum depression.

Saat ada kejadian itu, aku mungkin nggak hanya akan berpotensi untuk menyakiti diriku sendiri. Lebih dari itu, aku bisa saja menyakiti bayiku. Atau paling parahnya sampai ada lho kasus bayi meninggal.

Aku takut berubah jadi sosok lain yang bahkan nggak kukenali. Gimana kalau aku merasa sendirian di tengah tangisan bayiku? Gimana kalau bukannya menjaga, aku malah membahayakannya?

Baca juga:

3. Takut Nggak Bisa Menjadi Ibu yang Baik

Dari semua fase hidup perempuan, fase ini yang sangat menakutkan. Bukannya apa. Yang terlibat bukan hanya diriku sendiri. Tapi, masa depan anakku juga.

Gimana kalau aku nggak bisa jadi ibu yang baik?

Aku takut mengulang pola asuh yang salah. Takut kurang sabar menghadapi anakku yang tantrum. Khawatir terlalu keras pada anak. Atau malah terlalu lembek.

Iya sih. Aku tahu. Aku bisa melihat dan belajar dari berbagai tipe ibu yang ada di sekitarku.

Pasti adalah di antara mereka yang hangat dan penuh pelukan. Mungkin ada yang tegas dan disiplin. Bisa jadi, ada yang sering lelah tapi terus berusaha untuk terlihat kuat.

Anakku ‘kan bukan proyek yang bisa kurevisi kalau salah didikan. Masa kecil mereka, mana bisa terulang kalau aku keliru.

Gimana kalau emosiku nggak stabil? Terus tanpa sadar malah bikin perasaan anakku terluka karena kata-kata yang nggak seharusnya kuucapkan.

Jadi ibu ‘kan nggak hanya tentang hamil dan melahirnya saja. Yang paling penting malah setelahnya. Membersamai anak dengan segenap cinta untuk mengantar mereka ke masa depan yang terbaik.

Tekanan Sosial yang Tak Terucap

aku takut hamil

Yang bikin aku makin puyeng tuh bukan cuma ketakutan dari dalam diriku sendiri. Tapi, aku masih memikirkan gimana reaksi orang terhadap kehamilan.

Wong kayaknya bagi orang kebanyakan, perempuan menikah tuh gongnya adalah cepat hamil. Bahkan sebelum menikah, mereka dengan keponya bertanya soal mau punya anak berapa nanti.

Aku merasa nggak ada orang yang mau capek-capek memberi ruang untuk orang-orang sepertiku yang masih merasa takut.

Mereka beranggapan kalau aku kelamaan belum punya anak, ntar aku sulit punya anak. Atau lebih buruk lagi, mereka bilang kalau aku mandul.

Padahal, anak ‘kan sama saja kayak harta. Cuma titipan. Tuhan yang bebas mau memberikan titipannya kepada siapa. Aku benar dong, Sahabat Ceritaku?

Apakah Takut Hamil Itu Normal?

Aku nggak tahu apakah perasaan takut hamil bagi perempuan itu sesuatu yang normal.

Yang jelas, aku paham satu hal. Takut adalah respon alami. Dalam hal ini, aku berhadapan dengan sesuatu yang besar dan sangat mungkin akan mengubah hidupku.

Soalnya, kehamilan bukan cuma tentang sembilan bulan menunggu doang. Tapi, melibatkan tubuh, mental, relasi, finansial, dan masa depan.

Meski begitu, saat aku takut hamil, bukan berarti aku nggak ingin punya anak. Itu hanya tanda bahwa aku sadar betapa seriusnya peran seorang ibu.

Bukankah kesadaran itu adalah satu bentuk tanggung jawabku pada anak yang nantinya akan Tuhan titipkan padaku?

Baca juga:

Dari Takut Menjadi Persiapan

Ayolah! Aku sudah tahu bahwa nggak selamanya aku bisa menghindari kodrat hamil karena rasa takut. Tapi, sok berani tanpa persiapan apapun jelas kurang bijak.

Makanya, pelan-pelan aku mengubah rasa takutku jadi persiapan. Aku mulai belajar tentang kesehatan reproduksi, membaca tentang kehamilan dari sisi medis, dan persiapan lainnya.

Selain itu, aku mulai memikirkan soal dana darurat, asuransi, dan stabilitas finansial sebelum benar-benar mempersiapkan pernikahan lalu kehamilan.

Pertama-tama, aku memang butuh pasangan yang akan selalu support aku, baik sebagai ibu rumah tangga maupun freelancer.

Iyes. Aku ingin menikah nggak bikin aku jadi kehabisan waktu untuk menulis dan berkarya. Intinya, aku nggak ingin kehilangan ruang untuk diriku sendiri.

Aku sadar, menikah dan hamil bukan soal cepat atau lambat waktunya. Tapi, apakah aku sudah siap lahir dan batin menghadapi masa kehamilan dan menjadi ibu yang selalu belajar menuju ke arah yang lebih baik?

Aku Masih Takut. Dan Itu Nggak Masalah

Hari ini, saat aku menulis artikel ini, statusku masih single bahagia.

Masih bisalah menulis dengan santai. Kadang di kamar dengan secangkir kopi. Kadang melipir sambil nongkrong di café untuk cari suasana baru.

Please! Jangan tanya soal kapan aku akan menikah dulu ya! Apalagi pertanyaan seputar kapan hamil dan mau punya anak berapa.

Soalnya, aku juga bingung gimana mau menjawabnya. Lha, gimana dong? Yang tahu jawabannya cuma Tuhan. Nggak mungkin ‘kan aku minta kalian bertanya langsung padaNya. Hehehe…

Meski begitu, aku ingin kalian paham bahwa rasa takut hamil nggak bikin aku jadi kurang feminin. Aku selalu merasa layak jadi ibu yang baik kok.

Bisa jadi, suatu hari nanti, saat aku sudah menikah dan dua garis itu benar-benar menghampiriku, aku masih tetap takut. Tapi, aku jamin saat itu, aku sudah lebih siap.

Jadi, biarlah saat ini, aku berdamai dengan diri sendiri dulu. Nggak masalah kalau aku masih takut hamil. Dan aku nggak aneh. Aku masih sama normalnya dengan kalian lho, Sahabat Ceritaku.

Baca juga:

Posting Komentar

0 Komentar