Novel Ayah Karya Andrea Hirata – Lama tak membaca novel, pilihan saya pun jatuh pada novel karya Andrea Hirata bertajuk Ayah. Melalui aplikasi Ipusnas saya menghatamkan buku ni dalam beberapa hari.


Review Novel Ayah Karya Andrea Hirata


Sebuah novel yang saya bilang, isi ceritanya tak tertebak. Ayah siapa? Ayah seperti apa? Ayang yang mana? Seperti itulah pertanyaan yang muncul selama bercokol dengan setiap kalimat dalam novel tersebut.

Karenanya saya langsung tertarik untuk menuliskan review-nya.

Kondisi Fisik Novel Ayah

Tentu saya tak bisa menggambarkan fisik dari novel ini. Lantaran saya membacanya secara online. Tapi itu tak mengurangi hikmat buku ini sama sekali.

Seperti novel Andrea Hirata lainnya. Novel dengan jumlah halaman 412 ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Bulan Mei tahun 2015.

Bergenre roman dan drama. Novel Ayah berhasil membuat saya terkekeh di awal cerita. Lalu membuatku menitikkan air mata menjelang ending.

Sabari, Ayah Luar Biasa yang Tak Biasa

Novel Ayah sendiri menceritakan tentang seorang lelaki bernama Sabari. Sesuai namanya, ia begitu polos, sabar, tapi juga naif. Di sisi lain, ia adalah lelaki yang rela melakukan apapun demi orang yang ia cintai.

Sabari adalah tokoh penuh inspirasi. Inspirasi yang seperti apa? Tentu saja setiap pembaca akan memiliki intepretasi berbeda-beda. Namun semua akan memiliki satu sudut pandang yang sama. Sabari adalah ayah yang luar biasa.


Sobari, Ayah Luar Biasa yang Tak Biasa


Novel Ayah Karya Andrea Hirata: Penuh Kejutan

Berdasarkan ulasan pembaca di aplikasi Ipusnas. Semua menyampaikan hal senada. Karya Andrea Hirata yang satu ini adalah sebuah masterpiece.

Memiliki gaya bahasa yang ringan. Banyak selipan humor khas masyarakat menengah ke bawah dalam dialog. Membuat saya mesem, terkekeh, dan terbahak. Sudah macam orang gila pokoknya.

Alur dan plot novel ini luar biasa menarik. Tak tertebak sama sekali. Apalagi bagian ending-nya. Sederhana, manis, miris dan tak terduga.

Membaca novel Ayah sebaiknya banyak-banyak pasrah. Setiap menyelesaikan satu bab tak perlu mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya. Sungguh perkiraan tersebut akan melesat.

Novel Ayah Karya Andrea Hirata: Menggambarkan Kehidupan Sosial Masyarakat Belitong

Melalui novel Ayah karya Andrea Hirata, saya mendapat sedikit gambaran kondisi sosial masyarakat Belitong. Sekitar era 80-an sampai 90-an.

Sebagian besar masyarakatnya berstatus ekonomi menengah ke bawah. Bekerja sebagai buruh pabrik, guru, pegawai kantor bawahan, pelayan toko dan restoran. Semua hidup dalam kesederhanaan namun penuh semangat.

Permasalahan hidup yang rumit dan beraneka macam yang terjadi pada masa itu. Rasanya masih relate dengan kehidupan sekarang. Menyadarkan saya, bahwa kehidupan dari masa ke masa selalu menyusun pola yang sama. Soal cinta, soal keyakinan, soal materi, juga soal persahabatan.

Pelajaran dari Novel Karya Andrea Hirata

Membaca novel tentu tak hanya sebagai hiburan. Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita yang disajikan. Dari novel Ayah ini saya mendapatkan 2 pelajaran yang begitu penting. Tentu akan saya ingat sampai kapan pun.

#1 Pelajaran Hidup

Dari setiap tokoh yang ada dalam Novel saya mendapatkan banyak pembelajaran hidup. Sabari mengajari saya pentingnya sabar dan berpositif thingking. Berjuang tanpa lelah untuk orang yang dicintai.

Ukun dan Tamat –sahabat Sobari– meski tak seberapa pintar. Mungkin IQ mereka rendah. Tapi hati mereka tulus dalam membantu teman. EQ mereka bukan kacangan.

Marlena, meski terlihat pembangkang. Kejam dan tak punya perasaan. Tapi dia adalah perempuan yang mandiri dan kuat. Berpikiran merdeka meski kadang jadi menyusahkan orang-orang sekitarnya.

Pelajaran utamanya, bahwa setiap orang selalu punya sisi positif dan negatif dalam dirinya. Tak ada yang sempura. Itu berlaku secara umum. Saya sendiri pun juga begitu. Alih-alih terus mencoba selalu baik, rasanya saya perlu menerima diri seutuhnya.

Hampir lupa. Seperti judulnya, saya jadi memahami bagaimana cinta seorang ayah untuk anaknya. Ternyata tak kalah besar dari cinta seorang Ibu untuk anaknya. (Mewek, jadi ingat ayah sendiri).

#2 Pelajaran Menulis

Saya cocok dengan novel-novel Andrea Hirata. Mungkin karena sama-sama lahir dan besar di daerah. Saya merasa ada satu titik kesamaan di antara kita. (Aiihhhh, ini sih ngaku-ngakunya saya aja)

Jika menulis novel, mungkin saya akan meniru Andrea Hirata. Menggunakan Madura sebagai latar dan plot yang dominan. Pada semua novel saya nantinya (aminkan saja).

Ada pelajaran menulis yang juga saya dapatkan dari novel ini. Yakni tentang penokohan. Bahwa tokoh pada novel harus memiliki peran yang sama. Entah itu protagonis, antagonis, termasuk juga tokoh pendukung atau sampingan.

Setiap dari mereka harus punya peran dan latar belakang yang jelas. Keberadaannya tak bim salabim ada, juga tak bim salabim hilang tanpa alasan. Sekali pun tokoh itu kucing, penyu, pensil, dan ayunan.


Pelajaran dari Novel Ayah Karya Andrea Hirata


Sedikit Membingungkan Namun Menantang

Pada beberapa bagian dalam Bab. Otak saya yang cetek ini merasakan kebingungan. Tak bisa mengaitkan secara utuh setiap kejadian dalam novel Ayah. Tapi karena ceritanya menarik, saya teruskan membaca.

Banyaknya tokoh yang hadir, sesekali membuat saya harus mengerutkan kening. Mencoba mengingat. Misal, Tamat ini sahabat Sabari yang mana ya? Yang nilai Bahasa Indonesianya merah, atau yang nilai matematikanya merah? Atau kedua-duanya merah?

Ada yang mengatakan bahwa ini adalah kelemahan dari novel Ayah. Tapi saya memiliki pendapat berbeda. Justru itu adalah bagian yang menantang dari novel ini.

Saya setuju dengan pendapat, bahwa novel yang baik adalah novel yang memberikan ruang untuk pembacanya berimajinasi. Berpikir dan menelaah jalan cerita. Saya pikir novel Ayah memenuhi kriteria tersebut.

Selepas membaca, saya kembali mengecek beberapa bab awal. Demi memastikan bahwa saya telah membuat simpulan cerita yang tepat. Saya juga mengecek letak beberapa kota melalui google. Agar memahami cerita secara utuh.

Saran saya, saat membaca novel ini. Baca saja sampai selesai. Jika mendapatkan sedikit kebingunan simpan saja dulu. Sebenarnya pada bab-bab selanjutnya. Kita akan mendapatkan penjelasan secara utuh.

Kesimpulan

Membaca buku selama masa PPKM darurat ini bisa menjadi aktifitas pilihan. Kali ini saya sendiri memilih membaca novel Ayah karya Andrea Hirata.

Novel yang menurut saya luar biasa. Alur dan plotnya mengejutkan, tak tertebak. Tokoh-tokohnya tergambar secara jelas. Mulai dari karakter sampai latar belakangnya.

Mengandung banyak pelajaran. Pelajaran yang bold. Setiap orang punya sisi baik dan buruk.Tak ada yang sempurna. Dan cinta seorang ayah kepada anak, sama besarnya seperti cinta seorang ibu kepada anaknya.

Kamu perlu dan kudu banget membaca novel ini. Terbangkanlah pikiran ke era 80-an dan 90-an. Selami kehidupan masyarakat Belitong yang sarat kesederhanaan, makna dan inspirasi.

Itu dulu Review Novel Ayah Karya Andrea Hirata. Sampai jumpa di review – review novel andrea Hirata lainnya.

Tulisan ini dikirim oleh Luluk Rofiatul Adawiyah, author pada blog Kopi Jagung