Ticker

6/recent/ticker-posts

Mencari Arti Keluarga pada Pernikahan Tanpa Anak

Katanya harta yang paling berharga adalah keluarga? Seperti kata soundtrack film keluarga cemara jaman dulu. Lalu bagaimana dengan suami istri yang memilih untuk menjalani pernikahan tanpa anak?


Pernikahan Tanpa Anak


Hampir semua dari kita memikirkan hal yang sama. Bahwa keluarga berarti terdiri dari suami istri yang kemudian menjadi ayah dan ibu ketika memiliki anak. Lantas, apakah suami istri tadi berarti tidak memiliki keluarga?

Kita perlu menelaah permasalahan ini lebih dalam lagi. Berarti kita tidak boleh menjatuhkan vonis sembarangan. Membenarkan semua praduga kita pada mereka. Dan masa bodoh dengan semua pemikiran mereka. Kita tidak bisa seperti itu.

Apakah Mereka Bahagia?

Aku memiliki tetangga, pasangan suami-istri. Mereka kurang lebih seusia kedua orang tuaku. Namanya bibi Esa. Aku tidak mengetahui nama pasti suaminya. Banyak orang memanggilnya suami bibi Esa. Karena memang bibi Esalah yang benar-benar penduduk desa ini. Sementara suaminya menjadi penduduk desa karena sebuah pernikahan.

Setiap pagi sang suami akan sibuk mengurusi segala macam tanaman yang ada di sekitar rumahnya. Kebanyakan sih sayur-sayuran. Yah, mereka memanfaatkan lahan untuk berkebun.

Sementara itu, bibi Esalah yang bertugas menjual hasil kebun mereka. Tentu setelah beliau selesai menyiapkan segala kebutuhan suami.

Kopi yang mengepul sudah siap minum terhidang di meja. Berteman dengan sepiring singkong goreng. Terlihat sangat lezat. Itu saja menu sarapan bibi Esa dan suaminya.

Mereka jarang sekali bisa menikmati sarapan pagi berdua. Bagaimana tidak, setiap hari bibi Esa akan ke pasar menjual sayur. Suaminya menyempatkan diri untuk mengantarkan beliau sebelum menyibukkan diri di kebun.

Kegiatan mereka baru selesai setelah hari menjelang siang. Setelah bersih-bersih baru mereka bisa merebahkan diri berdampingan di atas dipan bambu yang sengaja diletakkan di halaman rumah. Tanpa obrolan dan hanya menatap dahan-dahan rindang pohon mangga yang menghalau sinar matahari.

Terlihat sangat harmonis sekali. Tanpa banyak perdebatan atau apa pun. Mereka berdua benar-benar panutan pasangan bahagia.

Lalu kemana pula perginya anak-anak mereka? Mungkin Teman-teman akan berpikir seperti itu.

Sayangnya, mereka tidak memiliki anak. Rumah mereka terlihat sangat sepi dan sunyi. Hanya kadang-kadang saat anak-anak tetangga bermain ke sana saja terdengar riuh suara bocah. Selebihnya mereka tinggal dalam senyap.

Lalu apakah mereka bahagia?


Childless Marriage


Pernah aku bertanya pada mamaku. Kenapa bibi Esa tidak memiliki anak? Apa karena salah satunya memiliki kekurangan? Katakan saja mandul atau bagaimana.

Mamaku tidak memiliki jawaban pasti. Beliau hanya bisa mengira sebuah alasan. Mungkin suami-istri itu tidak menyukai anak-anak. Tapi, aku melihat anak tetangga begitu asyik bermain ke tempat mereka. Mereka tidak terlihat terganggu sama sekali dengan kehadiran bocah-bocah itu.

Atau mereka hanya ingin berdua saja. Mencipta dunia yang hanya terisi oleh mereka. Hal ini menimbulkan pertanyaan lain mengenai keluarga seperti apa yang mereka inginkan?

Ada rasa kasihan menyusup dalam hatiku. Sosok anak pasti sedikit banyaknya memberi pelita di hati kedua orang tua. Mereka bisa menceriakan kehidupan keluarga yang awalnya sepi karena hanya terdiri dari suami dan istri saja. Bila beruntung anak-anak akan menjadi sholeh dan sholehah yang bisa mendoakan orang tua ketika telah tiada.

Menjelang usia senja, anak bisa menjadi perawat kala orang tua sudah mulai tidak sehat. Selayaknya keluarga yang tidak akan merasa jijik meski harus membersihkan (maaf) pup dan pipis orang tua. Orang lain belum tentu akan mengurusi setelaten keluarga sendiri. Kalau pun ada yang mau, sudah pasti ada biaya yang harus kita keluarkan. Setidaknya kita harus membayar layanan kesehatan keluarga atau apa pun namanya yang khusus mengurusi orang tua.

Bukankah itu salah satu tujuan menikah? Agar membentuk sebuah keluarga.

Orang Menikah itu Bertujuan untuk…

Segala sesuatu yang kita lakukan akan selalu memiliki tujuan. Entah kita memikirkannya secara sengaja atau tidak.

Misalkan, kita makan saat lapar berharap menjadi kenyang dan kesehatan tubuh terjaga. Kelihatannya sepele sih. Tapi tetap saja, itu adalah sebuah tujuan.

Maka begitu pula dengan kedua orang yang memutuskan untuk menikah. Ada tujuan yang ingin dicapai. Tidak perduli meski nanti tujuan itu berubah saat tengah mengaruhi bahtera rumah tangga dengan segala up and downnya.

Itu adalah hal yang wajar. Namanya juga menyatukan dua kepala yang berbeda. Mereka pasti memiliki pemikiran yang tidak sama. Tapi, mereka akan mencari cara untuk hidup berdampingan dengan perbedaan tersebut. Sebagian gagal tapi semoga lebih banyak yang berhasil melaluinya hingga masa tua dan salah satu harus berpulang pada Tuhan Yang Maha Esa.

Kalau boleh memprediksi, ada beberapa tujuan orang menikah. Meski aku belum menjalani sebuah pernikahan, setidaknya aku memiliki orang tua, paman dan bibi yang sudah menikah. Prediksiku, mereka menikah dengan salah satu atau beberapa tujuan berikut ini:

  1. Anak. Sebagian besar orang menikah karena ingin memiliki keturunan.
  2. Menjaga diri dari maksiat. Ketika kita beranjak dewasa akan ada dorongan seksual. Sehingga menyalurkannya dengan aman dan baik melalui jalur pernikahan.
  3. Mendapatkan kenyamanan dan kedamaian.
  4. Membangun sebuah keluarga yang harmonis.


Tujuan Menikah

See! Menikah untuk membentuk sebuah keluarga.

Baca juga: Anak Sang Penari

Mungkin ada beberapa tujuan menikah yang belum kusebutkan. Teman-teman boleh menyempurnakannya dengan menuliskan tujuan lain yang baik pada kolom komentar ya. Yuk baca lebih lanjut!

Mungkinkah Ada Pasangan yang Menikah Tapi Tidak Ingin Memiliki Anak?

Pernah bertemu dengan pasangan suami-istri yang sudah lama menikah tapi belum memiliki anak? Aku pernah dan sudah kuceritakan tadi. Yah, Bibi Esa dan suaminya.

Terlihat seperti apa kehidupan mereka? Mungkin bagi kita, mereka terlihat kesepian karena belum ada celoteh anak. Tapi, siapa yang tahu?

Ada beberapa kemungkinan mereka tidak memiliki anak, diantaranya:

  1. Belum mendapat kepercayaan dari Tuhan Yang Maha Esa untuk memiliki keturunan.
  2. Sedang menunda momongan.
  3. Memilih untuk menjalani kehidupan childless marriage atau pernikahan tanpa anak.

Memang ada pasangan yang menikah tanpa anak? Bukannya menikah bertujuan untuk memiliki keturunan?

Jangan salah, Gaes! Berdasarkan hasil sensus penduduk pada bulan September 2020, ada sekitar 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia. Kemungkinan pasangan menikah tanpa anak pasti ada. Meski itu bagai satu pasir di antara genggaman.


Mungkinkah Orang Menikah Tanpa Anak


Aku tidak tahu alasan sebenarnya Bibi Esa dan suaminya tidak memiliki anak. Yang aku tahu hanya sampai sekarang mereka tidak memilikinya. Sementara, hamil pada usia Bibi yang sekarang memiliki resiko yang besar sekali. Jadi, aku beranggapan bahwa mungkin saja mereka memilih untuk menjalani pernikahan tanpa anak.

Mereka harus berjuang untuk menghadapi segala opini buruk childless marriage yang mereka jalani, diantaranya:

  1. Anggapan bahwa mereka egois karena tidak ingin berkembang dengan memilih tidak punya anak.
  2. Pandangan aneh orang lain karena mereka hanya memikirkan kesenangan diri sendiri dan pasangan.
  3. Hidup tidak lengkap tanpa anak.
  4. Belum menjadi wanita sempurna karena belum melahirkan.

Belum lagi pertanyaan menyesakkan bagi mereka mengenai pilihan yang dibuat. Kadang membuat mereka sendiri bingung bagaimana memberikan jawaban tanpa menunjukkan rasa marah.

Baca juga: Secangkir Teh

Terlebih pendapat mengenai keluarga terdiri dari suami-istri dan anak. Hal ini sedikit-banyaknya menjadi beban bagi mereka. Benarkah menikah tanpa memiliki anak berarti mereka bukanlah sebuah keluarga?

Memilih untuk Menjalani Pernikahan Tanpa Anak Karena…

Segala hal yang terjadi pada kita biasanya merupakan hubungan sebab dan akibat. Kenapa aku begini? Kemungkinan karena aku begitu. Kira-kira seperti itulah ilustrasinya.

Begitu pula halnya ketika memilih kehidupan childless marriage. Tentu bukan tanpa sebab mereka memutuskan hal tersebut. Bahkan perjalanan sampai keputusan itu diambil juga bukan hal yang mudah.

Bisa jadi istri enggan memiliki anak karena satu dan lain sebab. Tapi belum tentu sang suami punya keinginan yang sama. Pasti sangat rumit menemukan kata sepakat atas pilihan itu di tengah perbedaan keduanya.

Jadi, apa kira-kira alasan pasangan memilih childless marriage? Kita bisa memprediksi beberapa penyebab pernikahan tanpa anak, diantaranya:

  1. Mereka telah lama menopang kehidupan finansial orang tua dan adik-adiknya. Jadi, tidak ingin keturunannya memiliki kehidupan yang sama. Hingga memutuskan untuk tidak memiliki anak saja.
  2. Rasa trauma karena pernah merasakan kekerasan dari orang tua toxic hingga memilih tidak meneruskan pengalaman buruknya dengan tidak memiliki keturunan.

Childless Marriage Karena


Maka dari itu, kita tidak boleh menyematkan stigma buruk mengenai childfree women and men sebelum mendengar alasannya dengan jelas.

Jangan dulu memandang rendah pada pasangan yang tidak memiliki anak. Berpikir mereka akan memiliki masa depan yang suram. Dan menganggap mereka egois.

Atau menganggap istri yang belum menjadi ibu belumlah menjadi wanita seutuhnya karena belum melahirkan. Hal itu bisa sangat menyakiti hati mereka. Maka, hentikanlah berpikir semacam itu.

Karena percayalah! Kadang apa yang kita pikirkan tidak selalu sama dengan apa yang sedang terjadi. Biarkan saja mereka dengan cara bahagianya sendiri. Karena penguat ikatan keluarga tak selalu tentang ada atau tidaknya tangisan anak dalam pernikahan.

Lalu, apa artinya keluarga pada pernikahan tanpa anak?

Mencari Arti Keluarga pada Pernikahan Tanpa Anak

Dalam penglihatanku, Bibi Esa dan suaminya hidup dalam kesunyian. Rumah yang begitu besar hanya mereka tinggali berdua. Tidak ada perselisihan dengan suami lebih-lebih dengan anak yang terdengar.

Lalu apakah mereka tidak bahagia? Belum tentu.

Pada kenyataannya mereka baik-baik saja. Hubungan mereka harmonis. Kemana-mana selalu bergandengan tangan berdua. Membuat beberapa pasangan muda kadang merasa iri. Lalu berpikir, bisakah keharmonisan keluarga mereka bertahan hingga senja kelak? Tidak ada yang tahu. Apalagi saat ini, ketika banyak sekali kisah tentang pelakor atau pebinor (istilah tentang seorang yang merebut pasangan orang lain)

Beberapa orang mungkin beranggapan bahwa mereka tidak menyukai anak-anak. Ternyata anggapan itu tidaklah beralasan. Kenyataannya mereka sangat baik pada anak-anak tetangga. Ringan tangan membagi apa pun yang mereka miliki. Tak heran membuat beberapa bocah merasa betah bermain di halaman rumah mereka.

Sebagian yang lain berpikir, apakah mereka tidak menginginkan sebuah keluarga yang utuh dan lengkap? Keluarga yang berisi ibu, ayah dan anak-anak.

No. Mereka mungkin memiliki pengertian yang berbeda mengenai sebuah keluarga. Kita tidak boleh memaksakan pemikiran kita pada mereka.

Contohnya saja, aku menemukan kehidupan pasangan tanpa anak lainnya melalui pencarian internet. Ada seorang blogger wanita bernama Anne Roderique dan suaminya bernama Jones. Mereka telah menikah selama lebih dari 13 tahun dan memutuskan untuk tidak memiliki anak. Dia menuliskan 11 hal mengenai childless marriage yang mereka jalani.

Salah satunya adalah tentang arti sebuah keluarga. Anne menyebutkan bahwa dia memiliki keluarga dengan ibu, saudara, nenek, bibi dan sepupunya. Selain itu, ia juga menjalani kehidupan dengan suami dalam pernikahan yang bahagia bersama beberapa hewan peliharaannya yang manis.

Baginya itu sudah cukup seperti keluarga. Keluarga yang ideal menurut pemikirannya. Dan kita tidak berhak menyalahkan hal tersebut.

Pada akhirnya, keluarga adalah tempat kembali yang paling nyaman. Ketika kita merasa lelah beraktifitas di luar rumah, maka keluargalah tempat kita beristirahat. Mengeluhkan segala asa yang mungkin ada. Dan mensyukuri segala yang kita miliki.

Jika mereka merasa nyaman dengan sebuah rumah yang hanya berisi mereka berdua dan beberapa hewan peliharaan, kenapa tidak? Itu sangat bisa menjadi arti sebuah keluarga.


Arti Keluarga pada Pernikahan tanpa Anak


At Least…

Pada akhirnya, baik bibi Esa – suami atau Anne – Jones memiliki arti keluarga mereka sendiri. Mungkin tidak selengkap kebanyakan orang yang memiliki buah hati sebagai pelipur lara. Namun mereka bisa merasakan bahagianya memiliki keluarga sederhana versi mereka.

Jadi, mari berhenti bertanya tentang rencana memiliki anak pada mereka yang belum memilikinya atau pasangan yang memilih untuk menjalani pernikahan tanpa anak. Karena itu mutlak keputusan mereka sendiri.

Selain itu, hanya Tuhan yang tahu kapan Dia berkenan menitipkan anugerah berupa anak pada setiap pasangan tersebut.

Kita hanya bisa turut mendoakan yang terbaik untuk mereka. Dan membiarkan mereka hidup dengan keluarga ideal versi mereka sendiri. Tanpa mengganggu privasi mereka karena mereka tidak pernah mengganggu orang lain.

Lalu, apakah nantinya aku akan menjalani pernikahan tanpa anak? Tentu saja tidak. Aku memiliki arti keluarga yang berbeda dengan mereka.

Sebaliknya, aku malah berharap segera bertemu dengan jodoh, menikah dan memiliki beberapa anak yang sholeh dan sholehah.

Ini hanya sebuah pemikiran bahwa mungkin ada pasangan yang memutuskan untuk melalui hidup mereka dengan childless marriage. Namun, hal itu bukan berarti mereka tidak membentuk sebuah keluarga kan?

Bagaimana dengan Teman-teman? Apa arti keluarga versi kalian?

Post a Comment

12 Comments

  1. Yang terpenting sudah sepakat sama suami ya mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Kak. Yang penting sepakat dengan pasangan halal. Agar semua tetap berjalan sesuai harapan.

      Delete
  2. Keluarga itu segalanya, apapun yg terjadi selalu ada untuk kita 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yupz. Betul sekali kakak. Pokoknya keluarga itu bagai rumah yang nyaman deh.

      Delete
  3. Emang ada yang alasannya g mau di repotin anak kecil😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan nggak mungkin sih. Namanya juga manusia. Pasti ada aja yang punya pemikiran begitu, Kak. Hehehe

      Delete
  4. Yes, childless marriage itu mungkin banget, bahkan gue sampe awal tahun ini aja kepikiran gamau punya anak karena takut sama tanggung jawabnya yg besar >< menarik banget artikelnya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada dasarnya setiap keluarga memiliki permasalahannya masing-masing, Kak. Ada yang belum ingin punya anak. Ada yang memang belum diberi amanah sama Allah. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, Kak. Semangat, Kakak.

      Delete
  5. kok bisa ada ya mau nikah tapi g mau punya keturunan.��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan nggak mungkin kan Kak. Meski kemungkinannya sangat kecil, ada sih pasangan yang hanya cukup bahagia dengan pasangan mereka saja. Hehehe

      Delete
  6. Sebenarnya membutuhkan suatu penelitian arti kebahagiaan ketika berkeluarga. Tulisan bagus bisa buat episode sinetron.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih. Rasanya kita nggak bisa menetapkan hanya dengan 1 sample saja. Hehehe

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya, jika anda memiliki saran, kritik maupun pertanyaan silahkan tinggalkan komentar anda.