Merindukan Pernikahan - Dua Belas

September 12, 2019

Baca Part Sebelumnya Merindukan Pernikahan - Sebelas



Rayyan POV

Alif sakit. Badannya panas sekali kata Ayu. Dia menelponku dengan panik. Dan rasa panik itu mempengaruhiku. Sangat. Bahkan membuatku acuh pada Abigail yang mungkin juga khawatir melihatku.

Maaf Abs, nanti akan ku jelaskan semua padamu, tekadku.

Saat ini ada yang lebih membutuhkan bantuanku. Dan hanya itu yang akan ku lakukan. Menolong Ayu sebagai temannya. Karena sejak dulu tidak pernah ada yang tulus berteman dengannya. Tepatnya tidak pernah ada yang menyukainya. Hanya aku.

Dan disinilah aku. Menemaninya menemui dokter anak di rumah sakit Hermina.

"Si kecil hanya deman, Pak. Usianya masih dua tahun, apa dia masih mendapatkan asinya?", tanya dokter yang memeriksa Alif.

Aku menoleh pada Ayu dan dia hanya menggelengkan kepala. Tentu saja. Ayu pasti tidak ingin merusak bentuk tubuhnya dengan menyusui bayi. Apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya? Semoga kelak Abigail tidak bersikap seperti ini, pada anak kami. Dia harus mendapatkan yang terbaik dari ibunya.

"Baiklah, akan saya resepkan obat penurun panas, istirahat yang cukup dan beri dia banyak cairan. Susu atau air mineral. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan", jelas dokter sembari memberi kami seulas senyum.

Ternyata, Ayu masih selebay itu menghadapi permasalahan. Ah, ku rasa memang sewajarnya seorang ibu bersikap seperti Ayu, jika menyangkut kesehatan anak. Hal yang wajar.
Terbersit dalam benakku, akankah Abigail juga bersikap begitu? Aku yakin, kelak dia akan memprioritaskan urusan keluarga di atas segalanya. Setidaknya, akan ku minta dia seperti itu. Karena akupun akan demikian.

"Terima kasih, dok", ucapku tulus.

Setelah membayar dan menyelesaikan segala urusan administrasi, Ayu mengajakku makan siang. Lagi - lagi aku tak kuasa menolak ajakannya. Tak ku hiraukan berapa banyak chat yang masuk ke ponselku. Aku yakin salah satunya ada pesan yang Abigail kirimkan padaku.

Nanti aku akan menemuimu setelah menyelesaikan ini semua, Abs. Bersabarlah.

"Kamu nggak memberitahu suamimu kalau Alif sakit, Yu?", tanyaku pada Ayu.

Aneh rasanya seorang ibu tidak mengabarkan perihal kondisi anaknya pada sang ayah. Jika itu terjadi pada anakku, tentu aku akan sangat khawatir. Kelak aku tidak akan membiarkan Abigail merasa sendirian mengurusi anak - anak kami.

"Dia sibuk, Ray. Kalau cuma urusan begini saja kamu sudah lebih dari cukup untuk membantu", jawabnya.

Jawaban macam apa itu? Tentu saja bantuan dari orang yang bukan suaminya tidak berarti apapun.

"Tapi suamimu yang seharusnya menemanimu mengurus Alif yang lagi sakit begini, Yu. Anak ini pasti ingin diurusi oleh kedua orang tuanya", aku mencoba memberi penjelasan.

"Nanti akan ku beri tahu dia", kata Ayu.

Ya sudahlah. Aku sudah cukup membantunya. Aku sudah mengingatkan dia pentingnya kedua orang tua untuk anak. Hari ini, hanya ini yang bisa ku lakukan.

Ku lihat jam tanganku. Pukul setengah empat. Aku sudah meninggalkan kantor sejak jam makan siang. Dan aku belum memberi kabar pada Abigail. Dia pasti sangat khawatir.

"Aku harus kembali ke kantor, Yu. Kamu bisa pulang sendiri? Aku panggilkan taksi", aku mencoba mencari celah untuk pamit.

"Kamu tidak akan mengantarku pulang, Ray?", tanya Ayu.

Mungkin dulu aku akan berkeras mengantarkan dia pulang. Tiba dengan selamat di rumah. Tak perduli ada waktu yang harus dikorbankan. Karena dulu dia adalah prioritasku. Orang yang selalu aku utamakan di atas segalanya. Bahkan pekerjaanku.

Tapi tidak dengan sekarang. Prioritasku sudah berubah. Bukan lagi masa lalu. Tapi masa ini dan masa depan. Dan di rentang waktu itu, bukan milik ayu lagi.

"Masih banyak hal yang harus aku kerjakan, Yu", aku mencari alasan.

"Tapi Ray. Kamu nggak khawatir aku naik taksi cuma berdua dengan Alif?", dia berkeras.

"Taksi online aman Yu. Aku bisa jamin kamu sampai rumah dengan selamat", jawabku.

"Kamu berubah Ray. Dulu kamu tidak pernah membiarkanku naik taksi sendiri. Kamu akan memaksa mengantarku kemanapun aku pergi", keluhnya.

Aku hanya tersenyum. Yah dulu aku memang seperti itu. Aku akui kalau aku memang terlalu posesif padanya.

"Jadi aku pesankan taksi online sekarang?", tanyaku.

"Aku bisa pesan sendiri, Ray", jawab Ayu kesal. Terserah dia merasa kesal atau tidak. Bukan urusanku lagi.

Akhirnya. "Oke, kalau begitu aku tinggal dulu. Aku masih banyak pekerjaan di kantor", pamitku.

Dan aku langsung kembali ke kantor. Menemui Abigail dan segudang urusan yang tertunda karena mengurus anak Ayu. Temanku.

==========

Sejak dulu Abigail tidak pernah bersikap manis padaku. Berharap dia akan berubah rasanya seperti pungguk merindukan rembulan saja. Mustahil. Apalagi setelah tadi aku mengacuhkannya. Dia menjadi diam seribu bahasa. Semua pekerjaan diselesaikan dalam kebungkaman.

Jadi, jangan salahkan aku jika semua pekerjaan aku limpahkan padanya. Mengalihkan pikirannya untuk tidak segera pulang ketika jam kerja telah selesai. Anggap saja aku memaksanya lembur. Setidaknya aku akan mempunyai waktu berbicara dengannya secara pribadi.

"Sudah maghrib, Abs. Kamu tidak akan sholat dulu?", tanyaku saat aku keluar ruangan untuk menunaikan kewajiban itu.

Dia menatapku sebentar dan fokus lagi pada pekerjaannya.

"Abs", panggilku lagi.

"Saya lagi libur, Pak. Nggak sholat. Ini sebentar lagi selesai. Teman saya nungguin di kosan", jawabnya ketus tanpa menoleh padaku.

Ah dia sedang dalam masa periodnya. Pantas saja. Katanya wanita jika sedang dalam masa haid emosinya suka tidak terkontrol. Dulu saat masih menikah dengan ayu, dia begitu. Jadi dia hanya sedang sensitif saja. Oke noted. Aku akan jauh - jauh dari para anak ibunda hawa saat seperti ini.

"Siapa temanmu yang nungguin di kosan, Abs?", tanyaku sambil lalu.

"Zaman", jawabnya singkat.

Siapa katanya? Zaman? Zaman Zulkarnaen. Yang katanya mantan pacarnya. Untuk apa dia menunggu dikosannya? Mereka masih sering berhubungan?

"Zaman mantan pacar kamu?", tanyaku memicing.

"Kok Mas Ray tahu?", tanyanya heran.

Terima kasih kepada mamanya Abigail yang dengan senang hati menceritakan masa lalu gadis ini.

"Mamamu yang cerita".

"Oh".

"Kenapa dia harus menunggu dikosanmu?", tanyaku tajam.

Abigail tidak menjawab. Dia masih saja fokus pada Komputerny. Kantor sudah sepi. Di bagian ini tidak ada lagi karyawan yang masih bekerja selain kami. Para office boy biasanya akan menunggu di pantry.

"Abs", panggilku gemas.

"Mas Ray ni katanya mau salat. Salat gih, ntar kehabisan waktu maghrib baru tahu rasa", omelnya kesal.

"Jawab pertanyaanku", perintahku tegas dengan menatap matanya tajam. Berharap dia akan terintimidasi dengan itu.

Namun lihatlah. Dia balas menatapku lebih garang. Ada apa dengannya? Apa ini juga pengaruh hormon? Masa period sialan. Tak bisakah ia tak mempengaruhi Abigail sehebat ini?

"Jadi?", tanyaku tak sabaran.

"Itu hanya Zaman, Mas. Dia hanya mampir karena kebetulan ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di Semarang", jawabnya.

"Dia mantan pacarmu", keluhku. Aku seperti seorang balita yang tak rela lolipopnya direbut.

"Lalu?"

"Dan kamu bersedia menemuinya?"

Oh Ray, bahkan sebelum ini kamu juga menemui mantan istrimu bahkan tanpa sepengetahuan gadis ini. Tenggelam saja kau ke laut Ray.

"Salahnya dimana Mas?", tanyanya antara gemas dan kesal. Ntahlah. Aku tak tahu.

"Siapa tahu dia ingin kembali berhubungan denganmu?", asumsiku.

Ini gila. Seharusnya gadis dihadapanku yang bertingkah begini. Ngambek tak beralasan. Kenapa aku jadi seolah seperti itu?

"Kalau saya mau, sudah sejak lama saya kembali berpacaran dengan Zaman, Mas. Tapi itu tidak saya lakukan. Mas Ray tahu betul itu", jelasnya.

Yah. Gadis ini tidak akan mau berpacaran. Dia gadisku. Milikku. Baiklah. Kalau si Zaman itu ingin menemuinya, silahkan saja. Tapi kalau dia ingin lebih dari itu, tidak akan ku biarkan.

"Dan lagipula Mas, yang perlu dikhawatirkan masalah mantan tu Mas Ray. Bukan aku", lanjutnya.

Apa katanya tadi? Dia mengkhawatirkanku dengan mantanku. Ayu. Apa dia sudah tahu aku sering membantu Ayu akhir-akhir ini? Tahu darimana? Apa mama yang cerita?

"Jadi mas Ray, sebaiknya sekarang mas Ray wudu, nanti keburu maghribnya habis", ingatnya sambil kembali fokus pada komputer.

Aku melanjutkan langkah ke ruangan yang disiapkan untuk sholat setelah selesai wudu. Mengerjakan kewajibanku dengan sepenuh hati dan meminta Pada-Nya untuk memudahkan segala urusanku.

- To Be Continue

With Love


Wattpad Yuni

You Might Also Like

2 Comments

  1. Wesss mantap... Sejujurnya ya.. Sy g suka tuh sana si cowok... Hmmm bikin sebel si Ray... Kayak muridku... Namanya Ray juga... Suka bikin sebel... Hehhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Tidak semua orang akan menyukai tokoh fiksi, mbak. Terima kasih sudah membaca cerita ini.

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya, jika anda memiliki saran, kritik maupun pertanyaan silahkan tinggalkan komentar anda.

Popular Posts

Komunitasku

Komunitasku