Pengalaman Merantau Sang Introvert

Pengalaman Merantau Sang Introvert
Pengalaman Merantau Sang Introvert - Aku adalah seorang introvert. Sejak dulu lebih nyaman menghabiskan waktu sendiri. Yah, meski ketika melakukan perjalanan, aku nggak keberatan ditemani seseorang beberapa kali. Apalagi, jika dia adalah teman yang sudah akrab denganku. Sebut saja para sahabatku yang memang jumlahnya nggak banyak. Beberapa malah udah ku kenal sejak masa pendidikan beberapa tahun lalu. See, aku memang orang yang nggak mudah bergaul.

Lalu, coba bayangkan gimana rasanya jika seorang introvert sepertiku harus merantau? Jauh dari keluarga yang memang sudah mengenalku luar dan dalam.

Secara, para perantau ‘kan memang harus bisa segera menyesuaikan diri dengan lingkungan. Bahkan kami dianjurkan untuk banyak bergaul agar lebih mudah menjalani kehidupan ketimbang harus sendirian.

Bukannya apa sih. Tapi, saat perantau menghadapi masalah, kepada siapa lagi mereka akan mengadu? Pada keluarga? Meski itu mudah saja dilakukan di tengah kemajuan teknologi saat ini. Bukankah, akan lebih mudah jika curhat dilakukan pada orang terdekat. Secara jarak dan emosional tentu saja.

Jadi, kebayang dong betapa frustasinya aku ketika harus merantau. Sulit banget, Geng. Beneran deh. Nggak bohong.

Kesulitan ketika Merantau untuk Sang Introvert


Lantas, apa saja kira-kira kesulitanku saat merantau? Oh, kalian nggak berpikir aku nggak mengalami masalah apapun ‘kan, Geng? Ayolah, bahkan seorang yang ekstrovert pun akan mengalaminya. Apalagi diriku yang selalu nyaman di tengah-tengah keluarga.

Kesulitan Merantau

Sesaknya Merindukan Keluarga


Silahkan saja menertawakanku. Aku nggak masalah. Toh memang begitu kenyataannya. Bahkan, aku pernah menangis saat lebaran harus jauh dari keluarga, seperti yang kemarin aku rasakan. Iya, karena sesuatu yang diharapkan segera pergi (read : covid-19), aku jadi nggak bisa mudik pas lebaran.

Selain itu, aku yang biasa kemana-mana diantar bapak atau saudara, juga harus mau sendirian. Percayalah, pada awalnya itu adalah pengalaman yang sangat menakutkan.

Harus Mempersiapkan Kebutuhan Diri Sendiri


Kenapa hal itu harus menjadi sangat sulit? Bukannya biasa aja kalau menyiapkan kebutuhan pribadi oleh kita sendiri? Secara, kita sendiri yang tahu tentang apapun yang kita inginkan.

Oke, itu memang benar. Tapi, masalahnya kebutuhan diri maksudnya urusan makan. Tahukah kalian? Aku adalah orang yang nggak terbiasa dengan tetek-bengek urusan perdapuran. Dengan kata lain, aku adalah orang yang kalau lapar tinggal makan aja. Itu kalau berada di tengah keluarga. Ada ibu yang menyiapkan segala menu masakan.

Nah, pas awal merantau, aku memilih untuk membeli makanan yang ingin ku nikmati. Tentu saja, ini malah menimbulkan kesulitan lainnya. Tahu nggak kesulitan apa?

Ruwetnya Mengontrol Keuangan


Aku merantau di pusat kota dan tinggal di tempat kos. Kalau makan saja harus beli masakan siap saji kan pengeluaran jadi besar. Kebayang betapa amburadulnya keuanganku ketika awal mula jauh dari keluarga. Meski nggak sampai seperti kata pepatah lama, “besar pasak daripada tiang,” tetap aja nggak banyak modal untukku bisa me time. Itu membuatku tambah nyesek, Geng.

Susahnya Bergaul



Tahu sendiri seorang yang introvert itu gimana ‘kan? Rasanya tu ada tekanan batin sendiri ketika harus jauh dari keluarga. Sementara, kita nggak bisa bergaul dengan mudah. Jadi, kalian nggak bakal heran melihatku sendirian kalau pas pergi kemana-mana. Sepi. Tapi, tetap merasa baik-baik saja.

Akhirnya, meski banyak kesulitan yang terjadi, aku tetap merasa happy. Beberapa karena aku tetap asyik dengan duniaku sendiri, sebagian yang lain karena memang aku mengusahakannya. Tentu saja nggak mudah. Namun, pengalaman merantau tetap harus kita syukuri.

Apa Saja yang Kulakukan untuk Membuatku Merasa Happy Selaku Perantau?


Senangnya Merantau

Melakukan Perjalanan Jika Ada Waktu Luang


Memang benar, aku merantau untuk mencari nafkah. Tapi, bukan berarti semua waktuku hanya untuk bekerja ‘kan? Ada juga hari libur yang bisa kumanfaatkan untuk sekedar refreshing.

Terkadang aku juga melakukan perjalanan dan mengunjungi tempat-tempat wisata. Meski hanya dalam satu kota. Sesekali jika memang ada waktu libur yang lebih lama, maka aku akan memilih berlibur ke luar kota. Kadang sendirian atau beberapa kali bersama teman dan sahabat. Dan itu asyik sekali.

Kita bisa menciptakan kenangan indah dan menambah pengalaman. Nggak hanya terkungkung dalam satu lingkup terbatas. Hehehe...

Coba Mengakrabkan Diri dengan Teman Sekos dan Sekantor


Pada awalnya memang terasa canggung. Apalagi, aku yang nggak terbiasa sok kenal dan sok dekat. Tapi, lama-kelamaan juga terbiasa. Sehingga bisa jadi, malah menjadi teman dekat. Kayak aku dan teman sekosku yang orang Solo. Yah, lumayanlah. Aku mulai terbiasa memiliki teman seperjalanan. Ditambah kalau doi mengajak teman-temannya yang lain.

Belajar Memasak


Kata mama, “kamu nggak perlu bantuin mama. Kamu fokus belajar sana!”

Itulah yang membuatku nggak familiar dengan pekerjaan rumah tangga. Kemudian, aku menjadi kelabakan pas memutuskan untuk merantau dan jauh dari keluarga. Sehingga, sampai urusan perutpun aku mengeluarkan uang lebih.

Lalu, aku mencoba untuk belajar memasak. Kan lumayan, aku bisa sedikit menghemat. Jadi, ada tambahan alokasi dana untuk me time. Duh, kan jadi tambah senang.

Mengisi Waktu Luang dengan Hobi


Siapapun pasti punya hobi. Begitu pula aku. Sehingga, nggak ada ceritanya lagi aku merasa kesepian dan menangis karena merindukan keluarga. Semua bisa diatasi jika kita selalu punya kesibukan.

Makanya, ketika libur kerja aku akan menyibukkan diri dengan hobi. Katakan saja kegiatan menulis di blog atau sekedar membaca novel. Lumayanlah, rasa sepi itu teralihkan begitu saja.

Olahraga


Oh ya, jangan lupa olahraga ya, Geng. Selain agar badan kita sehat, kegiatan ini bisa mengalihkan pemikiran kita lho. Jadi, nggak melulu mewek.

So, pengalaman merantau itu nggak melulu tentang pekerjaan ya, Geng. Bahkan beberapa orang bisa bebas menjadi traveler di kala menjadi perantauan. Malah itu menjadi pengalaman yang berharga banget. Meski kalian adalah seorang introvert sepertiku. Benar ‘kan?

With Love
Yuni Bint Saniro

Post a Comment

1 Comments

Terima kasih atas kunjungannya, jika anda memiliki saran, kritik maupun pertanyaan silahkan tinggalkan komentar anda.