Jodoh untuk Murni

Sumber : cikimm.com

Namaku Murni. Hanya itu. Pendek tapi indah terdengar. Meski kebanyakan orang akan menggunakan nama lengkap Siapa Murni atau Murni Siapa, tapi aku tidak keberatan dengan nama yang sependek itu. Toh itu adalah nama pemberian orang tua yang didalamnya ada doa yang diselipkan untukku. Tahun ini usiaku genap 29 tahun. Aku punya pekerjaan mapan dan penghasilan tetap setiap bulan. Yah, tipe-tipe wanita mandirilah. Apakah aku sudah berkeluarga? Jawabannya belum. Kalau kalian bertanya kenapa aku belum juga menikah? Aku tidak bisa menjawabnya. Karena, aku pun menyimpan pertanyaan itu. Maka, satu-satunya jawaban yang tersisa adalah belum bertemu dengan jodoh. Seperti yang diutarakan para ustadz dan ustadzah.

Beberapa tahun ini, banyak suara sumbang mulai menghampiri indra pendengaranku. Katanya aku terlalu pemilih dan tidak mau sama pemuda yang tidak punya harta. Mereka juga bilang, aku hanya ingin bersuamikan lelaki yang berpendidikan. Sampai ada yang tega mengatakan bahwa aku adalah seorang perawan tua. Jangan tanyakan bagaimana perasaanku kala mendengarnya. Aku sudah terbiasa dengan itu sehingga tidak lagi menimbulkan efek apa pun. Bahkan untuk sekedar sedih pun tidak. Normal saja kan jika seorang wanita punya kriteria untuk pasangannya. Apa yang salah dengan itu? Toh, wanita punya kriteria bukan berarti wanita itu pemilih ‘kan?

Sebenarnya, hal yang paling aku khawatirkan adalah perasaan ibuku. Coba bayangkan! Ibu mana yang mau buah hatinya diejek? Apa ada orang tua yang tidak ingin anaknya hidup aman dan damai? Tidak ada. Setiap orang tua selalu menginginkan buah hatinya bahagia. Lalu, adakah di antara para orang tua yang ingin luka hatinya diketahui oleh Sang Anak? Aku yakin tidak ada. Mereka akan menyimpannya sendiri. Rapat-rapat. Seolah mereka rela membawa rahasia itu sampai mati.

Maka, sudah sewajarnya aku pura-pura tidak mengetahui bagaimana gencarnya ejekan-ejekan itu mampir padaku. Aku bersikap seolah tidak ada apa pun yang bisa meresahkanku. Aku berangkat ke kantor dengan make up minimalis. Aku juga menyapa para tetangga yang terkadang berkumpul dan mungkin saja sedang bergunjing dengan senyum manis. Apa pun ku lakukan seolah tanpa beban semata-mata hanya ingin luka hati ibu tidak semakin menganga lebar.

Tapi apakah itu cukup? Tidak. Mereka malah semakin semangat berkoar, memperingatkanku untuk tidak terlalu memilih. Mereka juga mengungkapkan kekhawatiran mereka bahwa jika tidak segera menikah maka aku bisa saja menjadi tua sendirian. Tanpa siapa pun di sampingku. Orang tuaku tidak akan selamanya bersamaku. Ada kalanya mereka kehabisan waktu dan dipanggil pulang, menciptakan satu ketakutan dalam dadaku. Apa tidak cukup mereka mengejekku perawan tua saja? Kini masih ditambahi dengan bagaimana mengerikannya kemungkinan hidup sendirian di masa tua. Bukankah mereka sangat kejam? Memangnya apa salahku? Apakah belum menikah di usia 29 tahun adalah sebuah kesalahan?

“Mur, kemarin ibu ketemu sama Pak Azis dan Jaka. Kamu kenalkan sama Jaka? Dia ‘kan teman sekolah kamu,” tanya Ibu suatu ketika.

Jaka adalah anak Pak Azis. Teman sekolahku ketika masa SD sampai SMA. Saat kuliah kami tidak lagi satu institusi pendidikan. Aku memilih kuliah di luar kota dan si Jaka, aku tidak tahu dia melanjutkan kuliah kemana. Hubungan pertemanan yang tidak pernah dekat sejak dulu, membuat kami semakin kehilangan komunikasi di masa-masa itu. Sampai sekarang pun ketika acara reuni, kami tidak pernah sengaja berbincang. Aku lebih memilih bergabung dengan teman-teman yang memang dekat denganku sejak dulu. Sementara dia, seolah enggan bertegur sapa dengan teman-teman wanita. Mungkin karena sebagian besar teman wanita kami sudah menikah. Ntahlah. Meski ku akui dia adalah lelaki yang tampan. Namun, aku tidak tahu bagaimana kepribadiannya. Sejak dulu dia selalu tertutup dan enggan berinteraksi dengan teman wanita kecuali untuk hal-hal yang sangat mendesak. Tugas sekolah, kegiatan sekolah dan lain-lain seputar itu.

“Jaka baru keluar dari pesantren, Mur. Saat ini dia sedang sibuk mengajar di SD tempat kalian sekolah dulu,” jelas Ibu lagi.

“Duh, Mbak. Murni mana mau sama Jaka yang cuma seorang guru. Gajinya berapa coba? Dedi yang juragan telor ayam aja ditolak,” sahut Tante Mia, adik ibu yang baru saja bercerai.

Dedi yang dimaksud adalah duda beranak satu yang memiliki usaha peternakan ayam petelor. Masalah ekonomi, dia bisa dibilang sukses dan menjadi salah satu pria kaya di desaku. Namun, kehidupan berumah tangganya tidak sesukses kehidupan ekonominya. Dia baru saja bercerai dan prahara rumah tangganya sempat menjadi gunjingan banyak orang. Tentu saja, gunjingan itu mengenai sikapnya pada sang istri. Nah, pernah suatu ketika dia datang menemui Bapakku dan mengungkapkan niatnya ingin mempersunting diriku. Tante Mia sudah merasa senang sekali saat itu. Dia berpikir jika aku menikah dengan Dedi maka kehidupanku akan terjamin. Aku dipastikan tidak akan kekurangan materi jika hidup bersama dia. Namun, sayangnya Tante Mia mengabaikan kepribadian Dedi. Dia acuh saja dengan masa lalu pria itu. Alasan mengapa pria itu bercerai dengan istrinya tak pernah menjadi beban pikiran Tante Mia. Sehingga saat aku menolak lamaran Dedi, dia sedikit marah. Meski sebenarnya dia tidak berhak untuk itu. Toh, ibu dan bapakku mendukung semua keputusanku.

“Dedi sudah sewajarnya ditolak sama Murni. Kamu mau keponakanmu menikah sama duda yang suka main tangan itu? Memang kamu pikir si Dedi itu bercerai baik-baik sama mantan istrinya?” omel ibu.

“Tapi ‘kan dia kaya, Mbak. Murni juga nggak perlu kerja kalau menikah sama dia,” balas Tante Mia.

“Kaya kalau suka mukul juga percuma,” gerutu Ibu. “Kamu aja sana yang nikah sama Dedi,” lanjut ibu.

“Ya, Mbak Lita. Dedi ‘kan maunya sama Murni. Maksudku, daripada sama Jaka yang cuma guru SD, bukannya lebih baik sama Dedi juragan telor,” kata Tante Mia keukeuh.

“Meski cuma guru SD dia baik dan bertanggung jawab. Nggak kayak suami kamu yang lebih milih ninggalin kamu untuk orang lain,” sindir ibu akhirnya.

Dan pembicaraan mengenai Jaka pun berlalu. Ibu sudah keburu geram pada adiknya yang suka sekali mempermasalahkan mengenai statusku yang masih perawan. Jika saja bukan karena hubungan persaudaraan, mungkin ibu lebih memilih untuk mengusir Tante Mia dari rumah kami. Bukankah sudah ku bilang, tidak ada orang tua yang ingin mendengar anaknya diejek, sekalipun oleh tantenya sendiri. Maka, jangan sekali-kali kalian mengejek anak ibuku atau kalian akan dianggap angin lalu paling tidak selama tiga hari.

***

Hidupku memang hanya berkutat pada rumah dan kantor. Setiap pagi berangkat ke kantor dan pulang ke rumah di sore hari atau malam hari jika kebetulan harus lembur. Aku tidak pernah sengaja meluangkan waktu mampir kemana pun seperti teman-teman kantorku yang lain. Hanya jika ada sesuatu yang ingin ku beli atau ada teman kantor yang sedang merayakan hari bahagia dengan menraktir semua orang. Maka aku akan pulang ke rumah di luar jam kebiasaanku. Selebihnya, aku hanya akan menghabisakan waktuku di rumah.

“Gimana mau dapat pacar kalau kamu nggak mau bergaul begini sih, Mur?” begitu sindiran Tante Mia kalau melihatku hanya berdiam diri di rumah kala akhir pekan tiba.

Aku sudah kebal dengan sindiran itu. Kadang aku hanya akan menjauhi tante dan memilih mengurung diri di kamar dengan novel atau drama korea favoritku. Atau menulikan diri dan menganggap sindiran Tante Mia tak ubahnya suara dari radio rusak. Toh, kalau dia capek maka dia akan berhenti dengan sendirinya.

“Coba kalau kamu nikah sama Dedi, anakmu sudah dua, Murni. Dan kamu nggak lagi diejek sebagai perawan tua. Kamu juga bisa hidup enak dan tante juga bisa kecipratan enak,” sindir Tante Mia lagi.

“Tante, kita nggak bisa memaksa akan berjodoh dengan siapa? Meski kita ingin sekali berjodoh dengan seseorang, jika Allah berkehendak dia bukan yang terbaik. Maka kita tidak bisa memaksa. Apalagi Dedi sudah terkenal berperangai kasar pada wanita. Meski punya banyak harta yang bisa tante nikmati, apa tante setega itu melihatku bersamanya. Tentu tante tahu betul bagaimana sikap Dedi pada mantan istrinya,” balasku. “Lagi pula, kebahagiaan tidak pernah bisa terukur dari seberapa banyak harta yang kita miliki. Ku harap tante mau mengerti,” kataku mengakhiri.

Sungguh, bukan inginku melawan orang yang lebih tua. Apalagi bertingkah sok pintar. Andai orang lain, mungkin aku hanya akan diam dan melenggang pergi tanpa membalas apa pun. Namun tidak, jika ejekan itu terungkap dari bibir Tante Mia. Gaungnya akan cepat sampai ke indra pendengar ibu dan bapakku. Sehingga akan menorehkan luka yang semakin besar karena mereka tidak akan bisa membungkam mulut adiknya.

Bagiku menikah bukan tentang waktu dimana ada deadline di penghujung usia dua puluh tahunan. Jadi, meski banyak orang mencibir, aku tidak ingin terpengaruh dan menikah dengan sembarang orang tanpa perduli kepribadian orang itu. Bagaimana pun menetapkan kriteria pasangan itu mutlak, meski pada akhirnya jodoh kita di luar dari apa yang kita mau. Setidak-tidaknya, kita tidak asal pilih hanya karena dikejar waktu dan menyesal di kemudian hari. Toh, aku yakin, aku tetap akan menikah jika waktu terbaiknya telah sampai. Bukankah segala sesuatu di dunia ini sudah diciptakan berpasang-pasangan. Begitu juga jodoh untukku. Lalu kenapa mesti ragu akan hal itu?

[End]

With Love


Post a comment

18 Comments

  1. Teh ini cerita aja atau kisah nyata? Hihihi karena bagus tulisannya jadi sulit membedakannya 😍. Aku nikah umur 26 Teh, termasuk telat kalau kata orang mah. Tapi gimana lagi atuh ya kalau ketemu jodohnya umur segitu. Lagian aku juga nggak mau gara-gara kepengen nikah jadi asal pilih. Mending hati-hati daripada nyesel seumur hidup ya. Apalagi nanti dampaknya bisa ke anak. Kan kasian anaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe,,, Ini fiksi bunda. Mungkin memang banyak yang mengalami, jadi terlihat seperti faksi.

      Delete
  2. Dear Murni... Jodoh itu sudah disiapkan Allah. Tunggulah hingga waktu ya tepat, dia pasti akan datang dengan segala kebaikannya.

    Sabar adalah cara yang tepat untuk bisa lewati waktu penantian itu.

    Hehehee, salam buat Murni, ya, Mbak Yuni😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap... Murni akan sangat senang dapat salam dari Mbak,, Hehehe

      Delete
  3. Betul banget mbak, apalagi niat kita kan mencari pasangan untuk seumur hidup, jadi mnrtku wajar lah kalau milih2. Suka banget dengan tulisan mbak Yuni. Keren mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak,, Alhamdulillah, semoga selalu bisa menghibur teman-teman...

      Delete
  4. Saya juga punya beberapa teman yang menikah di atas usia 30 an Mbak. Alhamdulillah, akhirnya jodoh itu datang menjemput mereka, yang penting harus selalu berprasangka baik kepada Allah dan tidak putus asa untuk ikhtiar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap,, Betul sekali Mbak Ulfah, saya sepakat dengan Mbak...

      Delete
  5. Tante Mia lucu juga, kenapa bukan dia aja ya kawin dengan Dedy, hehehe. Tapi Murni memang benar, harta bukan segalanya. Buat apa bergeliman harta tapi tiap hari jadi obyek pukulan suami. Huhuhu

    ReplyDelete
  6. ya nih antara fiksi dan non fiksi. jadi pengen bisa nulis fiksi. tapi mengenai soal jodoh, betul jangan asal seketemunya, nanti malah nyesel seumur hidup. jodoh itu yang membuat kita nyaman, tenang, damai. Semoga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti Mbak. Allah akan menjodohkan kita pada orang yang membuat kita selalu aman, nyaman dan bahagia. Asal kita tak pernah lupa bersyukur dan selalu berusaha. Hehehe

      Delete
  7. Semangat murni. Abaikan omingan orang terkait jodob.
    Selalu yakin aja, Alloh selalu memberikan jodoh pada makhluknya.
    Kata guru agama saya dulu tuh.
    Wong yg "maaf"cacat saja berjodoh, apalagi kita yg madih sehat.
    Percaya sama Alloh Swt ya Murni, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hanya Allah lah tempat kita senantiasa bergantung ya Mbak...

      Delete
  8. Dulu aku menikah seusia murni 29 tahun pd thn 1999. Jaman dulu lho...hihi bnyk yg kasak kusuk. Lha mmg klu blm berjodoh gmn? Smg murni segera mndapat jodoh ya...? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Karena memang benar kan semua hal di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Hehehe

      Delete
  9. Jodoh memang misteri sih yaa Murni,, jadi yaa kalem ja lah. Gak usah peduliin apa kata orang deh. Toh orangtua juga mendukung pa yang dilakukan kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena pasti orang tua lah yang akan selalu mendukung apa pun hal untuk kebaikan anaknya.. Hehehe

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya, jika anda memiliki saran, kritik maupun pertanyaan silahkan tinggalkan komentar anda.