Tentang Bertahan Menulis di Blog Saat Sepi Pembaca

bertahan menulis di blog

Halo, Sahabat Cerita-ku. Euforia malam tahun baru 2026 sudah terlewati. Pertanyaannya, apakah kalian masih memasukkan konsisten menulis di blog sebagai resolusi tahun ini?

Bukannya apa ya. Kalian tahu ‘kan? Sekarang ini, orang-orang lebih suka nonton video ketimbang membaca. Cari informasi pun milihnya yang formatnya video.

Kayak, makin sedikit yang baca tulisan di blog. Seenggaknya, itulah yang kurasakan tiap kali cek views blogku. Entah untuk kepentingan nge-bid job atau sekedar ingin evaluasi konten.

Ada kalanya, aku tuh merasa capek gitu lho. Terus, bakalan mikir, ini tuh masih worth it nggak sih aku menulis di blog. Apakah kalian juga merasa begitu?

Saat Sepi Itu Datang Pelan-Pelan

Pahamlah ya! Blog nggak kayak platform video pendek atau sosial media (sosmed) yang notifikasinya muncul begitu ada aktivitas di sana.

Paling banter ya notifikasi muncul sebagai email baru saat ada komentar dari pembaca di blog. Selebihnya, nggak ada pemberitahuan apapun.

Jadi, sepi itu nggak begitu terasa. Dia datang pelan-pelan. Lewat grafik di Google Analitik yang terus menurun.

Saat aku malas ngecek halaman Google Analitik, ya sudah. Aku nggak akan pernah menyadari kalau artikel yang kutulis di blog sepi. Nggak punya views.

Kondisi ini pernah bikin aku malas menulis di blog lagi. Soalnya waktu itu, aku berpikir menulis blog hanya tentang ramai pengunjung atau nggak.

Apalagi, aku sudah terdaftar dalam program monetisasi blog. Sehingga, blogku bisa punya penghasilan melalui iklan yang tampil di sana. Kalau views-nya sepi, maka otomatis pendapatannya juga sedikit.

Sampai akhirnya, aku menyadari bahwa menulis di website personal hanya soal bertahan atau berhenti. Lalu, apa pilihanku?

Aku Tetap Menulis, Meski Nggak Selalu Dapat Banyak Pembaca

kenapa masih menulis blog

Iya. Aku memilih untuk tetap menulis. Menghidupkan website personal yang sudah kubangun dari nol dengan susah payah.

Nggak. Aku melakukannya bukan karena aku selalu punya semangat untuk menulis. Tapi, aku selalu mengusahakan untuk bisa konsisten menulis minimal satu artikel setiap blog dan setiap bulannya. Biar aku nggak kehilangan diriku sendiri.

Soalnya, bagiku menulis sudah lama jadi cara merapikan isi kepala. Di kala, aku sudah merasa dunia sangat ribut, blog udah kayak ruang kecil yang bikin aku sedikit tenang.

Nggak harus sempurna. Nggak harus viral. Seringnya, cuma curahan hati ala buku harian.

Aku pun menyadari, ada beberapa alasan yang membuatku tetap memilih untuk menulis di blog, antara lain:

  • mencurahkan perasaan yang terlalu penuh kalau kusimpan sendiri,
  • menyimpan pelajaran kecil yang sayang kalau kulupakan,
  • atau sekadar ingin mendokumentasikan proses hidup yang sayang kalau kulalui begitu saja.

Sahabat Cerita-ku tahu nggak, apa yang lebih aneh? Saat blogku sepi pembaca, aku justru belajar satu hal penting.

Menulis di blog nggak selalu butuh tepuk tangan yang riuh.

Baca juga:

Pergulatan yang Jarang Kubicarakan

Menulis di blog tuh bukannya nggak pernah capek ya. Kalau lihat blog lain bisa tumbuh dengan cepat. Eh lihat blogku malah jalannya kek siput. Pelan banget. Siapa yang nggak capek coba?

Muncul dah tuh pertanyaan, kayak apa iya tulisanku kurang menarik ya? Mungkin benar, artikelku kurang SEO friendly dan lain sebagainya.

Jangan tanya lagi soal gimana sibuknya aku mencari cara menulis artikel yang benar!

Baca artikel sana-sini. Utak-atik gaya blog. Ganti sudut pandang tulisan.

Rasanya, semua sudah kulakukan sambil bertanya pada diri sendiri. Apakah tulisan ini masih aku banget, atau cuma versi diriku yang mengejar angka views doang?

Saat Akhirnya, Aku Mengubah Cara Pandang

Dulu, aku menulis hanya untuk mengisi waktu luang. Buku harian, cerita fiksi, sesekali nulis puisi ala kadarnya.

Begitu memilih jadi blogger, kupikir views jadi satu-satunya parameter untuk mendapatkan penghasilan. Hasilnya, saat views menurun, aku jadi malas menulis lagi.

Lalu, pelan-pelan, aku berhenti menjadikan views sebagai satu-satunya tujuan. Aku mulai kembali ke hal yang lebih sederhana. Di mana, aku belajar, soal:

  • Gimana cara mencari ide menulis dari hal-hal sepele, kayak obrolan, kegelisahan, bahkan pengalaman harian.
  • Mencoba hal baru seperti belajar menulis resensi buku. Bukan untuk terlihat pintar, tapi untuk melatih kepekaan.
  • Menulis dengan ritmeku sendiri. Nggak ada paksaan untuk harus selalu jadi konten.

Dari situlah aku sadar, blog bukan lomba lari. Dia lebih mirip seperti perjalanan panjang yang kadang jalannya terasa sunyi.

Baca juga:

Bertahan dengan Cara yang Lebih Sehat

menikmati proses kreatif menulis di blog

Sekarang, aku menulis di blog tanpa menuntut diriku harus selalu produktif.

Ada kalanya, aku menulis artikel secara rutin. Ada juga waktu untuk berhenti sebentar. Dan itu nggak masalah sama sekali.

Aku mulai belajar menikmati proses:

  • Menulis ya karena aku ingin, bukan karena harus.
  • Menerima sepi tanpa perlu menyalahkan diriku sendiri.
  • Percaya bahwa setiap tulisan yang jujur akan menemukan pembacanya sendiri. Nggak perduli cepat atau lambat.

Untuk Kamu yang Masih Bertahan

Kalau kamu membaca ini dan sedang berada di fase sepi pembaca, aku ingin bilang satu hal.

Kamu nggak sendirian.

Bertahan menulis di blog saat sepi pembaca bukan tanda lemah kok. Justru itu tanda kalian punya hubungan yang tulus dengan tulisan kalian.

Dan tahu nggak sih? Aku pernah baca postingan praktisi SEO di LinkedIn. Katanya, pembaca blog tuh masih banyak kok.

Hanya karena views di blog kalian sepi tuh nggak menunjukkan bahwa pembaca artikel di website atau blog semakin sedikit.

Jadi, teruslah menulis di blog, Sahabat Cerita-ku!

Bukan karena dunia selalu mendengar, tapi simpel karena menulis bisa membuatmu tetap utuh.

Baca juga:

Posting Komentar

0 Komentar