Bukan Pacar Yovita

Bukan Pacar Yovita
Sumber : http://jurnalotaku.com/2016/10/08/review-zutto-mae-kara-suki-deshita/joi-review-zutto-mae-kara-suki-deshita-7/


Namanya Yovita - Dia cewek yang cantik dengan rambut sedikit bergelombang. Bulu matanya lentik dengan bibir merah meski tanpa lipglos berwarna sekali pun. Ditambah dia adalah satu-satunya ketua kelas cewek yang ada di kelas VII SMP N 03 Tanggul. Maksudku, dari keenam kelas VII yang ada di sini, hanya kelas kami yang nggak keberatan diketuai oleh seorang cewek. Kelas yang lain lebih memilih pemimpin dari kalangan adam. Dan ku pikir seharusnya memang begitu. Tapi kelasku menjadi pengecualian. Yah, pada akhirnya kami berpikir, nggak ada yang salah kan dengan ketua kelas cewek?

Sejak masuk sekolah setelah masa orientasi siswa, hanya Yovita yang terlihat paling vocal. Dia bahkan berani memimpin teman-teman untuk kegiatan pemilihan ketua kelas. Tentu saja kami melakukannya dengan pemungutan suara. Selain dia, ada beberapa nama yang menjadi calon ketua kelas. Termasuk dia. Tapi pada akhirnya Yovitalah yang terpilih.

Ini kisah tentang Yovita. Ketua kelas cewek yang terlalu aktif. Baik kegiatan kelas, sekolah sampai urusan pribadi mendekati seseorang yang dia sukai. Rasanya aku sampai malu sendiri dengan sikapnya itu. Terlalu agresif. Aku jadi bertanya-tanya, apakah memang semua cowok lebih menyukai type cewek yang seperti itu? Kalau memang benar begitu, mungkin aku nggak akan pernah punya pasangan di sini. Dan bagiku, nggak masalah.


Toh, aku nggak akan pernah bisa seberani dia untuk masalah itu. Lebih dari apa pun, di kelas ini aku bahkan cuma bisa jadi pengamat saja. Mengamati Erni yang bertingkah centil pada kakak kelas. Mengamati Arnold yang asyik dengan dunia menggambarnya. Juga mengamati dia yang selalu tenang menghadapi godaan-godaan Yovita.

Dia yang selalu tenang. Nggak pernah perduli pada kegaduhan di sekitarnya. Jangan harap dia akan memulai perbincangan lebih dahulu denganmu. Dia akan lebih betah mendiamkanmu dan menganggapmu nggak ada. Percayalah. Dia memang sedikit kejam.

Tapi aku nggak akan banyak membicarakan bagaimana perasaanku padanya. Kita fokus pada perasaan Yovita. Meski aku nggak terlalu tahu tentang itu. Tapi seenggaknya, aku bisa memperhatikan dan menganalisis dari apa yang ku lihat. Benar kan?

***





Aku nggak tahu bagaimana persisnya, tiba-tiba Arnold menemukan bukuku dengan tulisan nama dia lengkap dengan gambar love di dalamnya. Selayaknya anak baru gede, kejadian itu kontan membuatku dijodoh-jodohkan dengannya. Aku malu dan serta merta bersikap defensif. Sayangnya, sikapku nggak diimbangi dengan sikap yang sama darinya. Dia malah memilih tenang seperti biasa dan menanggapi semua godaan itu dengan tersenyum.

Sialan. Ini kayak aku yang terlalu ngebet sama dia nggak sih? Lagi pula aku nggak senorak itulah sampai harus menulis nama orang yang kusukai di buku pelajaran. Dan apa-apaan gambar love itu.

Yang jadi masalah adalah sejak awal, semua orang sudah tahu gelagat Yovita yang menyukainya. Cewek ketua kelas itu selalu mencari kesempatan berdua dengan Ibel. Saat istirahat, saat nggak ada guru bahkan saat pulang sekolah. Jadi, aku nggak akan heran jika cepat atau lambat, Yovita akan melabrakku.

Ingin rasanya aku menghajar Arnold yang memulai kekacauan ini. Aku nggak mengerti, apa sebenarnya yang dia inginkan? Mencari perhatian? Padaku? Yang benar saja.

"Resti, kamu beneran pacaran sama Ibel?" tanya Yovita ketus.

Tuh kan. Apa ku bilang?

Pandangannya tajam seolah menghujam jantungku.

Tentu saja membuat nyaliku jadi ciut. Apalagi. Sudah ku bilang 'kan kalau aku nggak seberani dan seaktif dia. Aku hanya bebas bicara di duniaku sendiri. Mau mengumpat atau mencaci siapa pun, itu akan ku lakukan di duniaku. Dunia yang hanya ada aku didalamnya. Tidak ada orang lain lagi.

"Nggak kok. Aku nggak punya hubungan apa pun sama dia," jawabku sedikit gemetar tapi masih ku beranikan diri untuk melihat padanya. Meski nggak tepat di manik matanya. Aku hanya bisa melihat titik di tengah-tengah alis tebal yang dia miliki.

"Tapi kamu menuliskan nama Ibel di bukumu. Lengkap dengan tanda love. Kamu suka dia?" tanya Yovita lebih tajam.

Siapa yang nggak suka sama dia? Ibel itu tampan, tenang dan pintar. Jago main musik. Dia juga tergabung dalam ekskul basket. Tempatnya para cowok tampan di sekolah ini. Semua pesona cowok cool ada padanya. Tapi, nggak mungkin 'kan aku mengakui kalau aku tertarik. Aku nggak mau mati konyol dibantai oleh Yovita dan komplotannya.

"Itu kerjaan Arnold, Yov. Bukan aku yang menuliskannya," jawabku.

Sepertinya dia nggak percaya dengan jawabanku. Dia tetap memicingkan matanya menatapku.

Oh Tuhan, tolong singkirkan dia dari hadapanku!

Beruntung setelah itu, dia datang. Lewat di dekat mejaku. Tanpa melirik pada siapa pun. Dan Yovita sudah pasti memilih mengekor Ibel ke mejanya. Dengan senyum termanis yang dia miliki. Sepertinya dia ingin mengajak Ibel pergi setelah pulang sekolah. Sekedar makan atau ke toko buku di seberang jalan. Sayangnya lagi-lagi, Ibel nggak menghiraukannya.

Aku ingin tertawa, tapi nggak bisa. Aku takut mendapat pelototan dari sang ketua kelas. Dia kalau sudah melotot, wajahnya jadi seram sekali. Kalau kalian pernah lihat film anabelle, mungkin kurang lebih begitu. Atau film dengan hantu valak. Tapi, seperti yang ku bilang tadi. Yovita nggak pernah mau menyerah. Dia akan mendekat dan terus mendekat padanya.

***





Suatu hari, di pertengahan bulan Februari, bertepatan dengan hari Valentine, Erni mendapat kado dari kakak kelas. Mereka baru saja jadian. Begitu pengakuannya. Jadi, seharian ini Yovita menempel pada Erni. Dia bertanya banyak hal tentang bagaimana dia berhasil pacaran dengan kakak kelas itu. Aku yakin saja, dia pasti ingin juga melakukannya pada Ibel.

Seperti dia gampang didapetin saja


"Ya, kamu tembak saja Ibel, Yov. Dia nggak bakal nolak kamu? Kamu kan cantik. Cocoklah sama Ibel yang ganteng," saran Erni yang masih bisa ku dengar.

Ku pikir Yovita nggak akan ragu untuk mengatakan perasaannya pada Ibel. Bukan hal yang sulit baginya. Terbukti dari rencana yang mereka susun kemudian. Ku dengar, Yovita akan menghampiri Ibel di ruang musik yang selalu dia datangi pada jam istirahat. Dia akan mengutarakan maksud hatinya di sana. Dan itu akan dia lakukan hari ini. Hari valentine.

Biar gampang inget kalau aniversary, begitu yang ku dengar.

Hatiku bertanya-tanya, apakah Ibel akan menjadi pacar Yovita setelah hari ini? Ah biar saja. Mungkin benar kata Erni, mereka akan terlihat cocok berdua.

Namun sesuatu terjadi. Di luar perkiraan semua orang. Setelah jam istirahat, Yovita nggak lagi masuk kelas. Hanya Ibel yang melenggang santai seperti biasa. Tenang seolah nggak bisa disentuh oleh siapa pun. Dia melewati bangkuku. Kali ini, dia menoleh padaku dengan senyum di bibirnya. Meski itu hanya senyum tipis. Tapi rasanya mampu membuat jantungku seperti mau meledak.

Ah andai saja dia bukan pacar Yovita

Tapi siapa yang tahu mereka pacaran atau belum. Yovita nggak masuk kelas setelah jam istirahat. Juga beberapa hari setelah itu. Bukan karena dia bolos sekolah sih. Tapi karena memang ada kegiatan pramuka di tempat lain. Jadi, nggak ada yang bisa dimintai keterangan. Teman-teman mana berani bertanya pada Ibel langsung. Kalau pun ditanya, dia pasti akan selalu bungkam.

[End]

With Love

Post a Comment

1 Comments

  1. tanpa pacaran, yang penting ujug ujug nikah nanti mba buat ceritanya hihi

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya, jika anda memiliki saran, kritik maupun pertanyaan silahkan tinggalkan komentar anda.