Sejak dulu, aku lebih suka baca novel ketimbang buku non fiksi. Makanya, kalau ada penulis favoritku menerbitkan novel baru, aku suka beli. Pernah sampai war juga pas beli novelnya Almira Bastari yang judulnya Resign!
Sebenarnya, bukan cuma penulis favorit sih. Aku juga suka koleksi novel yang ditulis sama teman-teman blogger. Apalagi yang emang aku sudah baca review novelnya pas blogwalking dan demen.
Salah satu yang paling kutunggu adalah novel terbarunya Kak Mutia Ramadhani berjudul Ada Cinta di Suaka Paksi. Aku tahunya dari tulisan review novel di blog Kak Annie Nugraha.
Tanpa babibu lagi, waktu itu aku langsung kontak Kak Mutia yang kemudian mengarahkanku checkout dari marketplace oren milik penerbitnya langsung.
Agak lumayan lama sih nunggu novelnya datang. Tapi, demi momen membaca novel yang paling kunantikan, aku bersabar menunggu kurir mengantarkan novel tersebut.
Menyiapkan Waktu Khusus untuk Membaca
Aku tuh tipe orang yang nggak kuat menahan rasa penasaran. Ibarat kata, aku harus tahu ending cerita dalam satu kali kesempatan. Kalau nggak, ya siap-siap saja hilang fokus untuk melakukan segala aktivitas.
Makanya, pas novel Ada Cinta di Suaka Paksi datang, aku memang menyiapkan waktu khusus untuk membacanya. Bahkan, aku sengaja mematikan notifikasi ponselku. Hanya biar nggak terganggu saat maraton baca novelnya hingga akhir.
Begitu matcha hangat sudah terseduh, camilan sudah ada, aku mengambil tempat di pojok ternyaman di kamarku untuk mulai membaca.
Tekadku bulat banget. Aku kudu tahu Fiora, yang punya kemampuan unik yaitu bisa mendengar suara hutan, akan melabuhkan hati pada siapa?
Sangga. Mantan kekasih a.k.a CEO muda yang ambisius yang nggak pernah benar-benar meragukan keunikannya. Atau…
Gandi. Peneliti senior di Suaka Paksi, yang percaya bahwa segala sesuatu harus bisa dibuktikan dengan logika dan data.
Meski begitu, Gandi nggak terlalu nyolot minta data kayak yang debat sama wakil ketua BEM UI 2026 tempo hari ya.
"Satu Bab Lagi" yang Terus Berulang
Kak Mutia bisa banget deh menceritakan detail-detail romansa kecil yang bikin aku betah membaca.
Kayak, gimana interaksi Gandi dan Fiora saat bekerja sama merawat raptor-raptor yang pernah patah sayapnya di Suaka Paksi?
Perdebatan mereka lucu deh. Gandi yang selalu butuh data. Fiora yang bisa mendengar protes tanaman dan hewan.
Pas Elangnya mengeluh ke Fiora kalau badannya sakit. Tapi, Gandi malah nggak nemu luka apapun di tubuh Elang.
Fiora keukeuh bilang Elangnya keracunan. Eh, Gandi nggak nemu toksin di hasil tes cepat pada sampel kotoran Elang.
Ke-uwuan cerita mereka terdistraksi sama masa lalu yang maksa muncul. Sangga, mantan Fiora, yang adalah CEO Green Glamour Group. Mereka berencana bikin eco-resort yang bekerja sama dengan Suaka Paksi.
Namanya juga mantan yang terpaksa berpisah. Tentu saja, Sangga bilang dia kangen sama Fiora. Pas pertama ketemu juga, aku sudah mencium gelagat dia pingin balikan lagi.
Dahlah, makin banyak halaman yang kubaca, rasanya aku makin sulit buat stop. Tiap kali kelar baca satu bab, selalu ada rasa penasaran yang bikin aku membuka halaman berikutnya.
Kayak, pingin tahu saja gimana perasaan Gandi pas Sangga meminta waktu buat ngobrol dengan Fiora. Mana Fioranya juga mau dan malah pamitan ke Gandi.
Giliran Fiora sudah merasa klik sama Gandi, malah muncul lagi junior cewek yang bikin jealous.
Ya wes. Baca satu bab lagi saja terus.
Mata Mulai Kasih Sinyal untuk Istirahat
Lagi seru-serunya baca, pas Fiora memutuskan buat mengajukan diri untuk ikut Volunteer Education Program di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Yang berarti kudu berpisah tempat kerja untuk sementara waktu dengan Gandi. Mataku kok ya terasa Sepet, Perih, dan Lelah.
Awalnya, aku cuek saja dan terus membaca. Interaksi Gandi sama Fiora ‘kan lagi gemas-gemasnya. Fiora pingin dapat surat rekomendasi untuk ikut program tersebut. Gandi yang ogah-ogahan menanda-tangani surat rekomendasinya.
Ya elah. Laki pencinta data itu pasti enggan berpisah dari Fiora ‘kan ya meski cuma sebulan doang magangnya. Tapi, gimana dong. Proyek mereka juga berhenti sementara. Yang mana, nggak ada alasan bagi Gandi buat nggak kasih ijin.
Sayangnya, mataku nggak bisa diajak kompromi. Rasanya semakin perih. Aku sudah berulang kali mengucek mata. Berharap rasa nggak nyamannya ilang. Tapi, nihil.
Memaksa baca kelanjutan kisah Fiora dan Gandi yang kudu terpisah jarak, malah bikin mata Sepet, Perih, Lelah.
Fokusku nggak lagi setajam saat baru baca tadi. Malah, aku harus berlama-lama di halaman yang sama karena pikiranku sudah terdistraksi oleh rasa nggak nyaman di mata.
Gawat sih ini! Gejala mata kering sudah mulai melanda. Ini sih sinyal dari mata buat istirahat.
Terlalu Fokus Sampai Lupa Berkedip
Ada yang sama denganku nggak sih, Sahabat Cerita? Kalau sudah fokus baca novel, pasti lupa berkedip.
Apalagi pedekate-nya Mas Gandi nih uwu banget ke Fiora. Rasanya, susah banget untuk berhenti baca kelanjutan ceritanya.
Bayangkan! Sudah berjam-jam membaca kisah cinta segiempat antara Gandi, Fiora, Sangga, dan Adila. Mataku terus-terusan menatap halaman demi halaman tanpa banyak jeda.
Aku hampir nggak pernah mengalihkan pandangan ke tempat lain. Ketambahan lagi aku-nya jarang berkedip. Lengkap sudah.
Makanya, nggak heran kalau aku sampai mengalami gejala mata kering. Itu tadi. Mata Sepet, Perih, dan Lelah. SePeLe gitu akronimnya.
Gini ini bad habit yang kumiliki. Kalau sudah penasaran sama akhir cerita sebuah novel, aku bisa lupa kebutuhan mata untuk beristirahat.
Padahal ya, yang aku dengar tuh kalau kena gejala #MataSePeLeJanganSepelein lho.
Ketika Rasa Penasaran Harus Mengalah
Kalian bisa membayangkan nggak sih? Orang yang kudu tahu keseluruhan cerita dalam satu kali baca harus berhenti saat cerita lagi seru-serunya tuh kesalnya kayak gimana?
Makan nggak enak. Tidurpun nggak nyenyak. Apalagi harus menyelesaikan pekerjaan. Alamat pikiranku melanglang buana ke tempat Fiora dan Gandi.
Mana Fiora lagi bertarung melawan kebakaran hutan. Doi yang bisa mendengar suara hutan otomatis punya beban moral untuk menyelamatkan semakin banyak orangutan yang berteriak kesakitan.
Tapi, memaksa diri untuk membaca saat kondisi mata Sepet, Perih, dan Lelah memang nggak asyik. Aku sih berpikirnya mata SePeLe jangan disepelein.
Makanya meskipun, terjadi sesuatu sama Fiora di Komunitas BORA, aku memutuskan untuk berhenti membaca. Kututup novel Ada Cinta di Suaka Paksi.
Pelajaran yang Kupetik Setelah Maraton Membaca
Menikmati momen saat membaca novel favorit tuh bukan berarti harus memaksakan diri untuk membaca tanpa jeda ya.
Berabe ntar. Malah yang ada gejala mata kering yang merapat. Ingat lho! #MataSePeLeJanganSepelein
Cara yang Sekarang Selalu Kulakukan
Kalau ada yang bertanya, apakah aku berhenti menikmati momen saat membaca novel secara maraton? Maka jawabanku, nggak ya.
Aku masih suka membaca novel favoritku dalam satu kali duduk. Hanya saja, aku punya kebiasaan kecil baru saat membaca maraton biar #BebasMataKering, di antaranya:
- Aturan 20-20-20 yaitu setiap 20 menit membaca, aku akan mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.
- Nggak lupa berkedip secara alami. Menurut informasi yang kubaca di forum diskusi yang ada di laman Alodokter, idealnya jumlah berkedip untuk menghindari mata kering adalah 14-17 kali per menit.
- Atur posisi dan jarak mata dengan buku saat membaca. Menurut artikel yang dibagikan melalui website Ayo Sehat, posisi yang ideal saat membaca adalah duduk dan buku sejajar dengan mata di jarak 30 cm. Hindari posisi membaca sambil tiduran ya.
- Set pencahayaan ruangan yang cukup.
- Cukupi kebutuhan air putih agar tubuh tetap terhidrasi.
- Pake tetes mata steril.
Ternyata kebiasaan-kebiasaan sederhana kayak gini cukup membantu untuk membuat mata terasa lebih nyaman saat membaca dalam waktu lama. Plus terhindar dari SePeLe. Cobain deh!
Mengenal Insto Dry Eyes saat Mata Terasa Kering
Meski sudah mencoba untuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan tersebut, ada kalanya mata tetap terasa kering, terutama saat aku terlalu asyik membaca dan lupa waktu.
Solusi yang Kutemukan
Begitu novel Ada Cinta di Suaka Paksi kututup, aku berpikir butuh solusi cepat untuk gejala mata kering yang kurasakan.
Tanpa planning aku berangkat ke minimarket demi mencari tetes mata yang sesuai untuk gejala mata kering.
Di rak obat-obatan, pandanganku tertuju pada #InstoDryEyes dengan kemasan berwarna biru.
Dari informasi yang kubaca di kemasannya, aku tahu kandungan Insto Dry Eyes adalah Hydroxypropyl methylcellulose, yang bekerja memberikan efek pelumas seperti air mata.
Pada kemasannya juga menyebutkan bahwa Insto Dry Eyes bisa membantuku untuk mengatasi gejala mata kering yang kualami setelah membaca novel Ada Cinta di Suaka Paksi selama berjam-jam tanpa henti.
Selain itu, tetes mata steril ini juga bisa meringankan iritasi akibat kurangnya produksi air mata, serta bisa banget kalian gunakan sebagai pelumas pada mata palsu.
Karena sesuai dengan keluhan yang sedang kurasakan, aku pun membawanya pulang.
Sesampainya di rumah, aku mengikuti aturan pakai yang tertera pada kemasan, yaitu tetesin insto dry eyes 1–2 tetes pada setiap mata, 3 kali sehari atau sesuai anjuran dokter.
Habis itu, aku nggak langsung membuka novel lagi. Kubiarkan mataku beristirahat sejenak sambil menikmati segelas air putih.
Begitu rasa nggak nyamannya mulai berkurang, aku kembali mengambil novel Ada Cinta di Suaka Paksi yang sejak tadi tergeletak di meja.
Menikmati Cerita Bakal Lebih Berkesan Kalau Mata Tetap Nyaman
Hari itu aku akhirnya berhasil menamatkan Ada Cinta di Suaka Paksi. Kepuasan setelah menutup halaman terakhir terasa lengkap karena rasa penasaranku benar-benar terbayar.
Asal kalian tahu saja nih, cobaan kisah cinta Gandi dan Fiora nggak berhenti hanya pada tragedi kebakaran di BORA ya.
Aku nggak mau kasih bocoran di sini. Tapi, aku harus bilang ke kalian.
Seseru apa pun sebuah novel, jangan sampai kalian lupa mendengarkan sinyal yang diberikan tubuh, termasuk ketika mata SePeLe.
Memberi jeda sejenak, menjaga kebiasaan berkedip, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, dan menggunakan Insto Dry Eyes sesuai petunjuk penggunaan bisa jadi cara yang sekarang selalu kulakukan agar momen membaca nggak terganggu sama gejala mata kering.
Karena bagiku, momen membaca novel baru dari penulis favorit yang sudah lama dinantikan itu layak kalian nikmati dengan kondisi mata yang nyaman.







0 Komentar
Terima kasih atas kunjungannya, jika anda memiliki saran, kritik maupun pertanyaan silahkan tinggalkan komentar anda.