Dulu Uang Segini Cukup Buat Belanja Sebulan, Sekarang Kok Cepat Habis?

cara menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok

Sudah awal bulan lagi, waktunya belanja bulanan lagi. Apa kabar budget untuk belanja bulanan Sobat Cerita-ku? Masih tetap apa harus bertambah nih?

Percaya atau nggak, kalau pulang dari belanja bulanan atau mingguan, aku tuh suka bengong sendiri.

Masa ya? Bawa uang sejuta misalkan, belanjaanku masih ada saja yang kurang. Masih kudu belanja tambahan lagi.

Beda banget sama waktu-waktu dulu. Uang sejuta juga sudah cukup. Kadang masih ada kembalian buat jajan bakso atau mie ayam.

Asli dah. Kerasa banget kalau jaman sekarang uang jadi cepat habis, euy. Aku yakin sih. Banyak keluarga milenial yang related sama kejadian begini. Iya nggak sih?

Manalah gaji sulit banget naiknya. Eh lha kok harga berbagai kebutuhan terus-terusan naik. Heran aku tuh.

Belum lagi kalau kitanya punya anak, masih kudu bayar cicilan, biaya sekolah anak, transportasi, sampai kebutuhan mendadak. Semuanya kayak terasa mencekik leher gitu nggak sih?

Ini tuh kitanya yang makin boros atau memang biaya hidup yang makin mahal yak? Emboh lah.

Tapi kalau kataku, daripada ngeribetin pertanyaan kayak gitu, mending cari cara mengatur keuangan keluarga saat harga kebutuhan pokok pada naik deh.

Kenapa Uang Belanja Keluarga Sekarang Terasa Cepat Habis?

Begini lho, Sobat Cerita-ku. Uang yang kita keluarkan tiap bulan ‘kan sebenarnya bukan cuma buat membeli satu atau dua barang ya. Kebutuhan bulanan mah banyak.

Entah itu, kebutuhan dapur, perlengkapan mandi, cuci baju, kebutuhan anak, segala macam tagihan, termasuk pengeluaran kecil yang sering luput dari hitungan.

Masalahnya, jaman sekarang yang mengalami kenaikan harga juga seringnya ikut rombongan. Mana mau sih mereka naiknya gantian? Dampaknya jelas terasa pas belanja bulanan.

Kurang lebih kayak yang aku bilang tadi. Dulu sejuta sudah cukup buat belanja sama jajan bakso atau mie ayam. Eh sekarang, sejuta juga masih kurang.

Apalagi kalau kitanya nggak mau menyesuaikan dan bertahan sama pola belanja kayak sebelumnya. Wassalam lah tuh budget yang sudah susah-payah kita bikin.

Apakah itu Berarti Keluarga Tiba-tiba Jadi Lebih Boros?

Belum tentu. Urusan ekonomi tuh ada yang namanya inflasi. Kalau jaman dulu sejuta cukup buat belanja sebulan, sekarang ya kalian harus menyesuaikan.

Nggak masalah kalau emang kitanya mau memangkas pengeluaran yang nggak perlu. Cuma ingat juga. Harga barang-barang untuk kebutuhan pokok juga naik lho, Sobat Cerita-ku.

Kalau kataku sih mending kita evaluasi budget saja. Toh kita nggak bisa memangkas kebutuhan pokok. Belum lagi soal kebutuhan anak.

Misal nih ya, dulu anak masih SD ya kebutuhannya beda sama sekarang anak sudah masuk SMP. Atau, dulu anak masih tinggal sama orang tua jelas pengeluarannya nggak sama kalau anak tinggal di pesantren.

Aku pernah baca cerita dari salah satu kreator digital Cianjur tentang perjalanan beliau mengirim putranya ke pesantren. Wuih, berliku banget. Termasuk urusan pengeluarannya.

Bukankah perubahan kayak gitu juga butuh penyesuaian ya, Sobat Cerita-ku? Nggak mungkin dong kita mati-matian mengencangkan ikat pinggang demi pengen punya budget bulanan yang tetap stabil.

Harga Naik, Langsung Potong Semua Pengeluaran? Tunggu Dulu!

harga kebutuhan pokok naik, jangan langsung memangkas pengeluaran
Harga naik mending cari produk alternatif yang lebih ramah di kantong


Pas pengeluaran mulai membengkak, aku yakin sih reaksi sebagian besar ibu-ibu pasti pengen memangkas pengeluaran. Harus hematlah. Biar tetap bisa saving money lah.

Tapi, berapa lama sih kita kuat menahan semua itu? Bukannya apa ya? Sesekali jajan tuh nggak masalah. Pengen makan di luar juga boleh-boleh saja kok.

Apalagi kalau punya anak yang tinggal di pesantren, kayak salah satu blogger Cianjur. Rasanya tuh kayak semua barang pengen dibeli buat si buah hati yang jauh di sana. Benar nggak?

Akibatnya, sekedar mengencangkan ikat pinggang tanpa mau beradaptasi dengan kondisi keuangan nyatanya malah bikin kita cepat lelah lho.

Percaya deh! Mengatur keuangan keluarga nggak otomatis bikin kita harus menghilangkan semua hal yang menunjang kesenangan hidup. Tahu nggak apa yang lebih penting?

Yang penting tuh, kitanya tahu mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sebenarnya masih bisa kita tunda.

Dalam artian, bukan cuma asal bisa keluar uang lebih sedikit saat semua harga naik. Tapi, gimana kita bisa pakai uang untuk hal yang memang penting buat keluarga.

Nah, biar kalian lebih bisa mengatur keuangan keluarga, aku punya cara sendiri dalam menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok. Yuk kita bahas!

Baca juga:

Cara Menghadapi Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok bagi Keluarga Milenial

Nggak bisa dipungkiri, harga semua barang memang ada kenaikan, khususnya kebutuhan pokok. Tapi, bukan berarti nggak ada cara untuk menghadapinya.

Paling nggak, aku punya beberapa cara, sebagai berikut:

1. Cek Lagi Budget Belanja Bulanan

Daripada buru-buru memangkas pengeluaran, coba lihat dulu catatan belanja beberapa bulan terakhir. Nggak punya? Oke nggak masalah. Kalian bisa mulai dari bulan ini.

Catat berapa uang yang biasanya kalian gunakan untuk:

  • Beras dan bahan makanan 
  • Sayur dan buah 
  • Lauk-pauk 
  • Minyak dan bumbu dapur 
  • Kebutuhan kebersihan rumah 
  • Kebutuhan anak 
  • Transportasi 
  • Jajan atau makan di luar

Setelah itu, coba bandingkan dengan budget sebelumnya. Misalnya dulu budget kebutuhan dapur habis sejuta, tapi sekarang rata-rata butuh Rp1,2 juta.

Dari situ kita tahu kalau ada selisih Rp200 ribu yang perlu kita cari solusinya.

Jadi, kita tuh nggak cuma merasa uang kok cepat habis. Tapi, kita tahu pasti angkanya. Mana yang mengalami kenaikan harga dan mana yang stabil.

2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Aku tahu banget. Ini memang nasihat klasik. Harus tahu beda kebutuhan dan keinginan dengan jelas.

Tapi percaya deh, Sobat Cerita-ku. Nasihat ini tuh tetap relevan. Nggak percaya?

Coba lihat keranjang belanja kita di marketplace! Apakah semuanya memang kebutuhan?

Atau ada beberapa barang yang masuk hanya karena melihat tulisan promo, diskon, atau sekadar berpikir, mumpung murah lah, beli saja. Padahal kalau nggak ada promo, mana mau kita membelinya.

Aku pribadi kalau untuk kebutuhan rumah tangga, lebih suka bikin dua kategori sederhana, kayak:

  • Barang wajib beli, seperti beras, telur, lauk, sayur, minyak, gas, sabun, kebutuhan anak, dan kebutuhan rumah lainnya. 
  • Bisa ditunda atau dikurangi, seperti jajan, makan di luar, belanja impulsif, atau barang yang sebenarnya masih tersedia di rumah.

Kelihatannya memang sederhana, tapi pembagian kayak gini bisa membantu kita untuk lebih sadar pas lagi belanja.

3. Buat Daftar Menu Sebelum Belanja

buat menu mingguan keluarga sebelum belanja
buat menu mingguan untuk keluarga sebelum belanja


Kebanyakan bu-ibu mah kalau mau belanja berpikirnya ya udahlah. Lihat ntar saja. Masak sesuai bahan yang dibeli saja.

Terus yang kejadian adalah bingung mau belanja apaan. Apa saja yang kelihatan mata, rasanya mau dibawa pulang dan jadi hidangan. Wajar kalau kalap belanjanya.

Sementara itu, belum tentu semua bahan yang sudah kebeli beneran jadi makanan yang terhidang di meja makan. Kebanyakan malah kebuang karena busuk atau kelamaan di kulkas. Apa nggak sayang tuh?

Kataku sih, buat mengontrol pengeluaran dapur mending bikin menu mingguan sebelum berangkat belanja. Dengan begitu, kita bisa belanja sesuai dengan kebutuhan saja.

Contoh, beli ayam yang sekiranya cukup untuk bikin dua menu yang berbeda. Lauk-pauk yang lain juga begitu. Termasuk sayur dan buah-buahannya.

Selain lebih terencana, kita juga bisa menghindari tindakan mubadzir, kayak buang-buang makanan yang terlalu lama disimpan a.k.a busuk. Benar nggak, Sobat Cerita-ku?

4. Cek Isi Dapur Sebelum Belanja

Aku baru saja belanja mingguan. Lha kok sebelumnya lupa cek stok yang ada di rumah.

Harusnya nggak usah beli minyak goreng malah beli lagi. Tepung terigu masih banyak di rumah, malah nyetok lagi.

Kalau duit lagi banyak-banyaknya sih nggak masalah ya. Coba kalau duit lagi pas-pasan. ‘Kan bisa untuk kebutuhan yang lain itu duit.

Hal-hal kayak gini memang kelihatannya sepele. Tapi kalau terjadi berulang kali dengan banyak barang, uang yang keluar juga nggak bisa lagi dianggap sepele.

Baca juga:

5. Bandingkan Harga Sebelum Membeli

Zaman serba digital kayak sekarang tuh seenggaknya bikin kita para keluarga milenial jadi punya keuntungan. Lebih mudah membandingkan harga barang.

Gaskeun dah tuh. Sebelum belanja kebutuhan tertentu, ceki-ceki dulu harganya di beberapa tempat. Siapa tahu dapat promo, ye ‘kan? Bisa di pasar, supermarket, toko sekitar rumah, atau marketplace.

Tapi, ingat ya! Kalau lagi berburu promo jangan pakai aji mumpung juga. Kita harus tetap fokus sama barang kebutuhan saja. Di luar itu, biarin dulu.

Soalnya, meskipun harganya sudah dapat diskon, tetap saja jadi pengeluaran. Bukannya sayang ya kalau ternyata barangnya nggak kita butuhkan.

Maksudku kurang lebih begini, jangan sampai niat awalnya menghemat Rp20 ribu, tapi malah berakhir dengan mengeluarkan Rp200 ribu karena tergoda membeli barang yang lain.

6. Jangan Selalu Terpaku pada Merek

Aku paham sih. Beberapa keluarga milenial sudah merasa cocok dengan merek tertentu untuk beberapa kebutuhan sehari-harinya. Bagiku sih no problem selagi keuangan aman terkendali.

Gimana kalau harga-harga barang pada naik? Merek tertentu bisa jadi malah di luar jangkauan keuangan kita lagi.

Pilihan paling mudahnya ya mempertimbangkan produk alternatif yang harganya lebih terjangkau. Nggak selalu harus memilih yang paling murah sih.

Cari saja perbandingan barang yang sama dari beberapa merek. Lihat kualitas dan harganya. Semisal ada produk yang kualitasnya sesuai dengan kebutuhan keluarga dan harganya lebih ramah di kantong, pilih saja yang itu.

Lumayan kan kalau selisihnya bisa dialihkan untuk kebutuhan lain.

7. Kurangi Buang-buang Makanan

Bagian ini yang jarang dapat perhatian. Kayak, kita terlalu sibuk mencari cara menghemat saat belanja barang. Eh malah lupa menghitung kebutuhan yang cukup untuk seluruh keluarga.

Bukannya apa ya. Kayak di rumahku misalnya. Aku lumayan sering melihat ada sisa nasi, sayur, dan lauk yang nggak kemakan.

Kalau bisa kuhangatkan sih pasti kuhangatkan ya makanan itu. Tapi kalau sudah nggak bisa kuselamatkan, ya akhirnya malah buang-buang makanan deh.

Pada kepikiran nggak sih, kalau buang-buang makanan tuh sama saja dengan membuang uang juga. Bahan makanan ‘kan kebeli pake uang.

Makanya, coba sesuaikan jumlah masakan dengan kebutuhan keluarga. Simpan bahan makanan dengan baik dan prioritaskan pakai bahan yang masa simpannya lebih pendek.

Kelihatannya kecil, tapi kebiasaan kayak gini bisa membantu kita untuk mengurangi pemborosan.

8. Tetap Sisihkan Dana Darurat

Apa-apa serba naik. Punya duit kok kayaknya cuma cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Gimana ya? Namanya juga kebutuhan. Tapi, usahakan tetap menyisihkan sebagian uang buat dana darurat sih, Sobat Cerita-ku.

Tenang saja! Jumlahnya nggak harus besar kok. Yang penting ada kebiasaan yang konsisten untuk menyisihkan uang. Soalnya, masa depan nggak ada yang tahu.

Yang namanya kebutuhan mendadak memang nggak terprediksi. Tiba-tiba, motor mogok. Anak sakit. Atau malah ada kebutuhan keluarga yang nggak masuk dalam rencana, gimana coba?

Masalah-masalah kayak gini sangat bisa bikin keuangan keluarga berantakan kalau kitanya nggak punya dana cadangan lho.

Baca juga:

9. Kalau Pengeluaran Memang Sulit Dipangkas, Cari Tambahan Penghasilan

Semisal, kalian sudah merasa menghemat sudah nggak cukup. Kebutuhan keluarga memang bertambah, sementara penghasilan tetap segitu-gitu saja. Nggak ada perubahan. Gimana?

Kalau sudah begitu, jangan cuma memikirkan apa yang bisa dikurangi saja. Tapi, pikirkan juga gimana cara menambah penghasilan.

Entah itu dari freelance, jualan online, menjadi affiliate, membuka usaha kecil dari rumah, menawarkan jasa sesuai keterampilan, atau melakukan pekerjaan sampingan lainnya.

Nggak usah muluk-muluk pingin menghasilkan jutaan rupiah. Sekedar dapat tambahan Rp500 ribu sebulan juga cukup membantu jika kita gunakan dengan baik.

Jadi, Kenapa Dulu Uang Segini Cukup, Sekarang Cepat Habis?

Jelas jawabannya nggak selalu karena kita semakin boros. Mungkin memang banyak yang sudah berubah dan kita harus evaluasi budget keuangan keluarga.

Sudahlah harga barang-barang untuk kebutuhan berubah. Eh kebutuhan keluarga juga ikutan bertambah.

Kalau hanya sekedar mengurangi beli ini-itu, kemungkinan malah kitanya sendiri yang capek. Tekanan batin karena merasa nggak bisa memenuhi keinginan sepele.

Mending, evaluasi budget yang sudah beberapa tahun lalu kita buat. Kala dulu Rp1 juta cukup untuk belanja bulanan, mungkin sekarang naik jadi Rp1,2 juta.

Nggak masalah sama sekali. Kenaikan budget seperti ini nggak menandakan kita gagal mengatur keuangan kok.

Yang penting mah kita tahu kenapa harus menaikkan budget dan paham betul gimana cara menyiasatinya.

Jadi, ketimbang setiap akhir bulan cuma mengeluh uang cepat habis. Mending lakukan tindakan nyata, contohnya:

  • Buka catatan pengeluaran bulan lalu. 
  • Lihat di post pengeluaran mana uang kita banyak terpakai.

Dari sana, kita bisa mulai menentukan mana yang harus dipertahankan, mana yang bisa dikurangi, dan mana yang sebenarnya nggak perlu.

Soalnya pada akhirnya, menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok bukan cuma soal mencari barang yang lebih murah. Tapi, lebih ke gimana keluarga belajar beradaptasi dengan kondisi keuangan yang terus berubah.

Dan mungkin, yang kita butuhkan bukan budget yang sempurna. Cukup budget yang realistis dan sesuai dengan kehidupan keluarga kita sekarang.

Posting Komentar

0 Komentar